Selasa, 24 Mei 2016

2030 Malaysia Siap Bangun PLTN, Indonesia Harus Tentukan Sikap


Jakarta, OG Indonesia-- Beberapa negara di dunia sudah mulai beralih atau siap menggunakan nuklir sebagai salah satu sumber energinya, misalnya Malaysia. Negeri jiran ini akan membangun PLTN di tahun 2030 mendatang. Sebaliknya, Indonesia belum menentukan sikap kapan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). 



Apabila pemerintah belum menentukan sikap untuk menggunakan alternatif energi, maka dikhawatirkan Indonesia dapat tertinggal dengan negara-negara lain.

"Sementara Malaysia memiliki roadmap untuk mulai membangun pembangkit di tahun 2030. Oleh karena itu, Indonesia harus cepat bertindak untuk mengantisipasi perubahan tersebut, terutama di dalam perdagangan bebas baik di tingkat bilateral, regional, dan multilateral," terang Menteri Perindustrian Saleh Husin pada Seminar Nasional Thorium Sebagai Sumber Daya Revolusi Industri di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Selasa (24/5/2016).

Pemerintah Indonesia dapat mulai mengkaji penggunaan thorium sebagai alternatif energi untuk pembangkit listrik sedari dini. Sedikitnya ada 140.000 ton thorium yang ada di Indonesia dan tersebar di berbagai daerah. Thorium merupakan salah satu jenis nuklir dianggap memiliki keunggulan dibandingkan alternatif energi lainnya.

Dengan jumlah thorium yang sedemikian besarnya, Indonesia dapat menggunakannya sebagai bahan bakar PLTN.

"Hal ini dapat dimulai dengan menyatukan tekad untuk memulai perencanaan pembangunan PLT Thorium agar dapat menanggulangi potensi kelangkaan energi di tahun 2025," kata Saleh.

Pihaknya berharap kepada para pemangku kebijakan agar bergerak cepat memanfaatkan potensi thorium yang besar di Indonesia sehingga diharapkan industri dalam negeri juga dapat terus berkembang.

"Saya meminta dan berharap kepada semua pemangku kepentingan terkait untuk bisa memanfaatkan potensi thorium yang luar biasa ini untuk membangun industri yang kuat, mandiri, berdaya saing tinggi, dan mampu mensejahterakan rakyat," imbuh Saleh.