Minggu, 22 Mei 2016

Biodiesel dari Ampas Kopi Bisa Listriki Kota Kecil

Ampas kopi ternyata bisa hasilkan biodiesel.
Foto: fastcompany.com
Tangerang, OG Indonesia –- Sebagai salah satu minuman favorit yang diminum ratusan juta orang di dunia setiap harinya, dalam proses pembuatannya, kopi tentunya menyisakan ampas kopi yang jumlahnya besar. Hal inilah yang memicu lahirnya ide dua mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Trisakti untuk memanfaatkan ampas kopi yang tak lagi berguna tersebut dan mengubahnya menjadi biodiesel. Tak hanya itu, mereka juga memiliki konsep agar biodiesel yang berasal dari ampas kopi tersebut digunakan sebagai bahan bakar PLTD yang bisa melistriki sebuah kota kecil.

Adalah Sharima Umaya, mahasiswi Jurusan Teknologi Bioproses UI dan Hendio Oktaviolefi, mahasiswa Jurusan Perminyakan Universitas Trisakti yang memiliki ide tersebut. Ide mereka yang tergabung dalam Tim C3 menjadi salah satu finalis dari 9 tim finalis yang masuk dalam babak akhir ajang “Go Green in The City 2016” tingkat nasional di Indonesia yang diadakan oleh Schneider Electric.

“Kita melihat kebiasaan minum kopi, di mana di Indonesia dan di dunia kopi itu sudah jadi bagian dari kultur. Jadi banyak orang yang minum kopi dan itu pasti menghasilkan banyak ampas kopi, sehingga kita ambil ide dari situ,” terang Sharima Umaya kepada OG Indonesia. “Kita kemudian melakukan riset dari beberapa coffee shop, kemana sih ampas kopi ini, apakah dimanfaatkan atau dibuang saja, dan ternyata itu dibuang saja,” sambung Hendio Oktaviolefi.

Jika dirata-ratakan, setiap coffee shop menyumbang sekitar 10 kg ampas kopi setiap harinya. Di kota sebesar London misalnya, jumlah tersebut dapat mencapai 2.000 ton dalam satu tahunnya. Di London sendiri konsep pemanfaatan biodiesel dari ampas kopi sudah dilakukan di mana biodieselnya dimanfaatkan sebagai campuran untuk bahan bakar kendaraan.

Dari riset yang dilakukan Tim C3, ternyata dari sekitar 10 kg ampas kopi dapat diubah menjadi 2 liter biodiesel. “Jadi di ampas kopi itu berdasarkan banyak riset memang mengandung biodiesel sebesar 20 persen,” jelas Hendio. Untuk mengubahnya menjadi biodiesel, ampas kopi harus diekstrak terlebih dahulu dengan menggunakan pelarut organik. “Setelah diekstrak, untuk menjadikannya benar-benar jadi biodiesel itu dilanjutkan dengan proses transesterifikasi yang akan menghasilkan biodiesel yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik,” sambung Sharima.

Tim C3 memaparkan, dalam praktiknya nanti untuk mendapatkan ampas kopi sebanyak-banyaknya, maka harus dilakukan kerjasama dengan berbagai coffee shop terutama dengan gerai kopi yang memiliki banyak cabang. “Itu dikumpulin jadi satu dan diolah di pabrik dan di-generate jadi biodiesel lalu dikirim ke pembangkit listriknya,” ujar Sharima.
Sharima Umaya dan Hendio Oktaviolefi,
punya ide manfaatkan biodiesel dari
ampas kopi untuk melistriki kota kecil.
Foto: Ridwan Harahap

Ditambahkan oleh Sharima, biodiesel yang dihasilkan dari ampas kopi tersebut dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dapat melistriki sebuah kota kecil dengan penduduk ribuan jiwa.

“Untuk small city dengan PLTD-nya berkapasitas 500 kilowatt itu membutuhkan sekitar 32.000 liter (biodiesel) per hari. Dan kalau kita mengambil coffee waste dari seluruh Indonesia  itu sudah bisa untuk men-generate listrik untuk ukuran small city itu,” papar Sharima seraya menambahkan bahwa ampas kopi di Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan hingga 60.000 liter biodiesel per harinya. “Jadi masih ada eksesnya yang bisa dimanfaatkan juga untuk kebutuhan lain,” lanjutnya.

Ditambahkan Sharima, pemanfaatan biodiesel dari ampas kopi untuk PLTD di kota kecil bisa membantu program pemerintahan Jokowi yang ingin melistriki berbagai wilayah di Indonesia lewat program 35.000 MW-nya. “Ini bisa membantu target pemerintah untuk 23 persen energi terbarukan di tahun 2025, jadi inovasi kita ini bisa untuk membantu nge-push angka itu,” ucap Sharima. “Ini konsepnya untuk small city dulu dengan penduduk hanya beberapa ribu orang, karena banyak daerah di Indonesia yang belum ada listriknya yang small city itu,” sambungnya.

Dari hitung-hitungan biaya untuk menjalankan konsep ini, Tim C3 menyampaikan bahwa untuk pembangunan infrastuktur secara keseluruhan menelan biaya sekitar US$ 900 ribu. “Untuk payback period-nya itu sekitar sepuluh tahun. Revenue itu bisa didapat dari penjualan biodiesel itu,” beber Sharima.

Tim C3 mengharapkan konsep mereka ini bisa diterapkan secara nyata, sehingga secara tidak langsung juga dapat mengedukasi masyarakat serta pelaku usaha gerai kopi untuk bisa memanfaatkan limbah kopi yang dibuang. 

“Jadi apabila coffee shop bekerjasama dengan kita, dia bisa meningkatkan brand image-nya, dan orang-orang akan melihat bahwa coffee shop tersebut Green,” kata Hendio. “Secara tak langsung ini juga bisa mengedukasi masyarakat tentang energi terbarukan,” pungkas Sharima dengan senyum mengembang. RH