Jumat, 20 Mei 2016

Ide Pintu Putar Hasilkan Listrik Juarai GGITC 2016

Para pemenang GGITC 2016.
Foto: Ridwan Harahap
Tangerang, OG Indonesia -- Perusahaan global di bidang pengelolaan energi asal Perancis, Schneider Electric kembali mengadakan edisi ke enam Go Green in The City (GGITC), kompetisi global yang berfokus pada solusi inovatif untuk mewujudkan smart cities. 

Seleksi final GGITC tahun 2016 di Indonesia memunculkan 9 tim finalis dari berbagai perguruan tinggi. Dalam pengumuman pemenang yang diadakan di kampus Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Kamis (19/05), memunculkan Tim Scarf dari Universitas Indonesia sebagai Juara 1 lewat idenya "Droplock Turnstile Gate". 

Tim Scarf menyabet hadiah sebesar Rp 30 juta dan berkesempatan mewakili Indonesia dalam GGITC regional Asia Timur pada 10 Juni 2016 mendatang. Jika kembali menang, Tim Scarf akan masuk ke dalam 12 tim terbaik dari seluruh dunia yang akan diberangkatkan ke Paris, Perancis, pada 19-23 September 2016 dalam puncak acara GGITC 2016.

Sementara untuk Juara 2 diraih oleh Tim Indo Energy Heroes yang merupakan gabungan dari Universitas Indonesia dan Universitas Lampung dengan konsep "Salt Water Lamp". Lewat idenya memanfaatkan garam sebagai sumber energi untuk lampu, tim ini mendapatkan hadiah Rp 15 juta. 

Sementara Juara 3 disabet oleh Tim Alzyngris dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember lewat konsep "ThermoElectroFible" yang mendaur ulang sisa energi panas dari kendaraan bermotor menjadi udara bersih kembali. Atas pencapaiannya Tim Alzygris berhak memperoleh hadiah sebesar Rp 10 juta.

Sebagai pemenang pertama, Tim Scarf yang terdiri dari Nabila Astari dan Stephanie Rawi merasa tidak menyangka sama sekali atas ide mereka yang ternyata jadi juara. Kedua mahasisiwi jurusan Teknik Mesin UI angkatan 2013 ini mengaku hanya iseng mencoba ajang ini setelah kepikiran saat nongkrong di kedai kopi. "Ada kesempatan nih, ya udah kita coba aja," kata Stephanie.

Konsep "Droplock Turnstile Gate" sendiri terlintas dalam pikiran mereka dari pergerakan pintu putar (turnstile gate) yang umum ditemui di halte busway atau stasiun kereta. "Kita mencari sesuatu yang sangat common dan orang enggak sadar itu terbuang tapi bisa kita konversikan dengan baik," papar Nabila. "Akhirnya kita pikir, ada rotation nih di sebuah gate yang tidak dimanfaatkan sama sekali, dan malah rotation itu yang menggunakan listrik," sambung Nabila.

Beranjak dari situ, Tim Scarf pun punya ide untuk memanfaatkan pergerakan banyak orang yang masuk ke halte busway atau stasiun kereta untuk menghasilkan listrik. Ketika melewati gerbang, pintu putar dibuat untuk dapat mengaktifkan generator khusus yang terdapat di dalam gerbang yang dapat menghasilkan listrik. 

Listrik tersebut nantinya akan digunakan untuk menghidupi perangkat card reader di gerbang serta dapat disimpan di dalam baterai sebagai sumber energi. Dari temuan mereka, jika diaplikasikan di 50 titik, dapat mengurangi beban listrik hingga 15 kwh per hari. "Jadi dari motion ini bisa jadi electricity. Dengan ilmu yang kita punya kita akan kembangkan ide ini lagi," tambah Stephanie. 

Riyanto Mashan, Country President Director Schneider Electric Indonesia mengatakan ajang GGITC dapat menjadi sebuah ekosistem untuk mendorong solusi-solusi cerdas dalam memaksimalkan efisiensi energi. "Dan mahasiswa adalah bagian penting dari ekosistem ini, untuk menghasilkan ide-ide baru yang membuka peluang bagi pengkonsumsian energi secara lebih cerdas dan efisien, khususnya di perkotaan," jelas Riyanto. RH