Selasa, 24 Mei 2016

Sorgum Juga Bisa Jadi Sumber Bioenergi

Tanaman sorgum potensial
dimanfaatkan sebagai penghasil bioetanol.
Foto: Agrodaily.com
Jakarta, OG Indonesia – Sorgum, tanaman dari jenis serealia yang tahan hidup di daerah kering ini ternyata tak hanya dapat dibudidayakan dan dikembangkan sebagai bahan makanan alternatif. Sorgum ternyata juga potensial dikembangkan sebagai tanaman penghasil bioenergi.

Tanaman bioenergi pada dasarnya terbagi tiga, yaitu tanaman penghasil minyak (biodiesel), karbohidrat atau gula (bioetanol), dan biomassa (bagasse). Salah satu tanaman penghasil bioetanol yang belum banyak dikembangkan adalah sorgum, terutama sorgum manis (sweet sorghum).

“Pada umumnya negara-negara di Asia mengalami krisis energi, dan sumber energi fosil semakin terkuras dan habis. Kenapa kita tidak mengembangkan energi terbarukan yang bersumber dari tanaman,” kata Suranto, Peneliti Pemuliaan Tanaman Sorgum di sela acara training tentang teknik mutasi radiasi untuk tanaman bioenergi yang diadakan oleh Batan dan International Atomic Energy Agency (IAEA) di Jakarta, Senin (23/05).

Salah satu pilihan tanaman bioenergi yang potensial untuk dikembangkan, menurut Suranto adalah sorgum. Di mana sorgum ini merupakan tanaman yang tahan untuk tumbuh di tanah-tanah yang marjinal atau kering di mana tanaman pangan tidak dapat tumbuh di sana. “Sorgum ini termasuk tanaman yang bandel, bisa ditanam di daerah kering di mana curah hujannya sangat rendah. Sehingga daripada tanah kosong (dengan ditanam sorgum) bisa menghasilkan produk,” bebernya. Di Indonesia, sorgum dapat tumbuh dengan baik di daerah kering dengan curah hujan rendah seperti di Gunung Kidul, Madura, NTB, NTT, dan wilayah timur Indonesia lainnya.

Sorgum sendiri banyak manfaatnya, di mana bijinya mengandung karbohidrat, lemak dan protein tinggi sehingga bisa digunakan sebagai bahan pangan. Sementara batang dan daunnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Sementara untuk sorgum manis yang batangnya mengandung cairan gula cukup tinggi dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gula cair, sirup, atau diproses menjadi bioetanol. “Sweet sorghum itu bisa diperas dan dibikin etanol yang bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor, sampai lampu penerangan,” terang Suranto.

Rajbir Sangwan, Djarot Sulistio
Wisnubroto, dan Suranto (kiri ke kanan).
Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama dengan Kementerian Pertanian sebenarnya telah menghasilkan dan melepas tiga varietas unggul untuk tanaman sorgum, yang diberi nama Pahat, Samurai 1, dan Samurai 2 selama 20 tahun penelitian dan pengembangannya. Pahat punya karakteristik biji bagus yang cocok untuk sumber pangan alternatif. Samurai 1 memiliki kadar gula yang tinggi di batang sehingga direkomendasikan sebagai sumber bioenergi. Sementara Samurai 2 juga cocok untuk pangan, dan daunnya juga bagus untuk pakan sapi.

Ketiga varietas unggul sorgum tersebut dihasilkan Batan lewat teknik mutasi radiasi. Di mana dilakukan rekayasa secara genetik terhadap sorgum lewat radiasi sinar gamma sehingga dapat dihasilkan tanaman sorgum yang beragam. “Itu kita seleksi, dan begitu dapat yang unggul lalu kita murnikan benihnya, diperbanyak dan kita tes. Kalau tujuannya cari sorgum untuk ditanam di lahan kering, kita tes yang tahan kering,” jelasnya.

Diceritakan Suranto, berdasarkan pengalaman dari perusahaan swasta yang telah mengembangkan sorgum untuk bioetanol yaitu PT Bayu Lancar Unggul Engineering (BLUE) di Kalimantan Timur, dari 1 hektar tanaman sorgum bisa menghasilkan sekitar 500 liter bioetanol. Dari bioetanol yang dihasilkan dari sorgum tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kompor. “Pengembangan bioenergi ini memang concern dikembangkan untuk daerah-daerah yang pasokan gas elpiji tabung hijau susah didapat dan listriknya juga belum ada,” ucapnya.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan upaya Batan melakukan pengembangan dan hasilkan varietas unggul dari tanaman bioenergi seperti sorgum adalah untuk menjawab pertanyaan banyak orang terkait keseriusan pengembangan EBT di samping pengembangan energi nuklir. “Tujuannya adalah supaya energi tidak dilihat dari sisi nuklir saja, tetapi secara nasional kita juga mendukung energi terbarukan. Bioenergi itu masih sangat rendah, mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh teman-teman ini kita bisa menggemakan bioenergi,” papar Djarot.

Menurut Djarot permasalahan utama dalam pengembangan tanaman bioenergi bukan terletak pada upaya menghasilkan varietas tanaman bioenergi yang unggul, melainkan terkait persoalan keekonomian dalam pengembangan usaha tanaman bioenergi ini. “Persoalannya apakah petani bisa diuntungkan, atau apakah perusahaan swasta diuntungkan dengan menanam tanaman ini,” tuturnya. “Tapi dengan adanya success story seperti di Brazil, saya yakin kalau pemerintah serius, termasuk saya, maka itu bisa berhasil. Tapi memang untuk awalnya perlu biaya yang cukup untuk memberi rangsangan bagi pihak swasta dan petani untuk bergerak,” sambung Djarot.

Sementara itu menurut Rajbir Sangwan, Pakar Pemuliaan Tanaman Bioeneegi dari IAEA, potensi  pengembangan tanaman bioenergi di Indonesia sangat besar. “Indonesia adalah termasuk pemimpin dalam pengembangan tanaman bioenergi. Ini adalah pencapaian yang baik,” tuturnya.  Indonesia sendiri telah ditunjuk oleh IAEA sebagai Lead Country Coordinator di kawasan Asia untuk mengembangkan tanaman bioenergi, mengingat  lahan marjinal di Indonesia masih cukup luas ditambah adanya dukungan Pemerintah RI yang memiliki program terkait EBT. RH