Selasa, 19 Juli 2016

Keberadaan Pekerja Tiongkok di Indonesia Tuai Polemik


Jakarta, OG Indonesia-- Sikap Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dalam menyikapi permasalahan masuknya tenaga kerja asal Tiongkok ke Indonesia dinilai gagal, pasalnya Hanif menyikapi permasalahan ini dengan  membandingkan jumlah tenaga kerja Indonesia yang berada di luar negeri.



Menurut Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPI) Mirah Sumirat, membandingkan TKI yang bekerja di luar negeri dengan tenaga kerja asing di Indonesia adalah kurang tepat. Pasalnya, TKI di luar negeri mengerjakan pekerjaan yang relatif tidak dikerjakan para pekerja di negara itu. Sementara, tenaga kerja asing di Indonesia justru mengambil alih kesempatan masyarakat karena mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh tenaga lokal.

"Dari hal itu sudah sangat berbeda dan bertentangan. Jadi, jangan membandingkan TKI yang bekerja di luar negeri dengan tenaga kerja asing di Indonesia, adalah hal yang kurang tepat," jelas Mirah di Jakarta, Senin (18/7).

Dia menjelaskan, permasalahan utama yang perlu didiskusikan bukan berapa banyak TKI yang bekerja di luar negeri, tetapi soal penegakan aturan hukum ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

"Membanding jumlah TKI di China dengan tenaga kerja China yang masuk ke Indonesia semakin menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memberikan jaminan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia. Sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945," tegas Sumirat.

Sebelumnya, Menaker Hanif Dhakiri menyebut bahwa 10 juta tenaga kerja asal Tiongkok yang masuk adalah sebagai wisatawan yang akan datang ke Indonesia. Menurutnya, justru tenaga kerja Indonesia yang menyerbu Tiongkok dan negara-negara lain dengan membandingkan jumlah tenaga kerja asal negara-negara tertentu dan jumlah tenaga kerja Indonesia di negara tersebut.