Rabu, 27 Juli 2016

Kentalnya Aroma Politis, Akhir Cerita Sang Menteri Pemberani


Jakarta, OG Indonesia-- Menteri ESDM Sudirman Said sudah 'berpamitan' lewat media sosial di tengah isu santer reshuffle kabinet. Sudirman Said terlihat dikenal sebagai menteri yang tegas melakukan reformasi birokrasi dan revolusi mental di internal Kementerian ESDM. 




Sudirman Said juga banyak melakukan terobosan penting dan dia memerangi mafia migas. Wajar saja saat Sudirman Said di reshuffle, banyak pihak menyayangkan. Namun Sudirman Said sendiri sudah legowo. Ia bersyukur sudah menyelesaikan tugas dengan baik. 

"Alhamdulillah, tugas besar selesai. Ladang amal & perjuangan makin lebar. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini. Thx semua," kata Sudirman dalam akun twitternya yang diunggah sekitar pukul 22.30 WIB, Selasa (26/7/2016).


Sosok pengganti Sudirman Said yakni Archandra Tahar disoroti Yusri Usman, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), "Sosok Menteri ESDM baru tentunya kita lihat bagaimana cara dia untuk mengatasi kondisi kesulitan kita saat ini di bidang energi yakni lifting migas dan krisis listrik,"ucap Yusri pada OG Indonesia, Rabu (27/07/2016).

Yusri menilai bahwa kemampuan seseorang dengan prestasinya di luar negeri dan kembali ke Indonesia untuk memimpin birokrasi bukan perkara mudah, pasalnya unsur politis yang tinggi sangat mempengaruhi kebijakan energi di negara Indonesia.

Yusri Usman, Direktur Eksekutif  CERI
"Unsur politisnya tinggi, kadang itu yang membuat Sudirman Said terseok-seok. Bisa jadi kebijakan Sudirman Said membenahi sektor energi telah mengganggu kenyamanan pihak yang dulu menguasai sektor energi,"jelas Yusri.

Sebagaimana diketahui sepak terjang Sudirman Said, jejak rekam keberanian dan ketegasan 'SS' jelas terlihat dalam upayanya memerangi mafia migas. Dan yang paling jadi perhatian publik adalah keberanian dia mengungkap skandal 'papa minta saham' yang melibatkan pencatutan nama Presiden Jokowi, Wapres JK, bahkan Menko Polhukam Luhut Pandjaitan.

Kala itu Sudirman Said melaporkan Ketua DPR Setya Novanto ke MKD, tentu setelah meminta izin Presiden Jokowi. Bermodalkan rekaman percakapan Novanto, pengusaha Reza Chalid, dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Sidang-sidang MKD bergulir begitu cepat, Sudirman Said menghadapi sidang MKD yang sebagian anggotanya cukup keras kepadanya. 

Nyatanya, Sudirman Said benar, Kejagung ikut memproses kasus ini. Namun demikian Setya Novanto mundur dari kursi Ketua DPR sebelum MKD menjatuhkan sanksi pelanggaran kode etik. Persoalan ini kemudian tak jelas ujungnya hingga kini.

Jadi reshuffle kabinet jilid 2 ini merupakan akhir cerita Sudirman Said sebagai seorang menteri yang tegas dan pemberani, tentu ada ladang amal yang lain untuk Sudirman Said di kemudian hari.(09)