Jumat, 22 Juli 2016

Krisis Harga Minyak, PHE Tetap Survive

Direktur Utama PHE Gunung
Sardjono Hadi
Foto: PHE
Jakarta, OG Indonesia -- Menginjak usianya yang ke-9 pada 29 Juni 2016 lalu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menegaskan dapat tetap survive di tengah krisis harga minyak.

Direktur Utama PHE, R. Gunung Sardjono Hadi mengatakan bahwa PHE yang berdiri sejak 2007 saat ini produksi minyaknya hingga bulan Mei berada pada kisaran 64 MBOPD, dari target sebesar 61 MBOPD. 

"Hasil ini di dapat dalam kondisi penurunan yang alami dan harga minyak yang memprihatinkan, serta banyak rencana kerja yang dilakukan terjadi pengurangan untuk efisiensi. Untuk itu, atas pencapaian ini kita patut bersyukur dan apresiasi teman-teman semua para VP, GM dan Pekerja PHE," terang Gunung beberapa waktu lalu.

Gunung mengungkapkan PHE mampu survive di saat krisis harga minyak. Disampaikan olehnya ini terlihat dari hasil kinerja pada tahun 2015 lalu. Kinerja operasi PHE selama tahun 2015 di mana capaian produksi migas sebesar 183 MBOEPD yang berarti di atas target RKAP 2015 yang sebesar 175 MBOEPD. 

Jika dirinci, realisasi produksi minyak sebesar 66.30 MBOPD, dengan  target RKAP 2015 sebesar 68.33 MBOEPD. Sementara untuk produksi gas PHE mencapai  678 MMSCFD melebihi target yang dibebankan sebesar 619 MMSCFD.

"Saya berharap PHE bisa mengulang kesuksesan 2015, di mana tidak ada fatality serta banyak improvisasi di berbagai lini. Hingga saat ini target-target 2016 masih on the trek. Namun tantangan diluat sangat kompleks akibat dari pengaruh harga minyak," bebernya.

Sepanjang 2015, PHE juga berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 1,782 Milyar dengan nilai keuntungan sebesar US$ 204 juta pada 2015, dengan beberapa parameter yang digunakan yaitu harga minyak US$ 49,70/ barel dan harga gas US$ 5,92 / mscf dengan kurs rata-rata US$ 1 = Rp 13.392.

Sepanjang tahun 2015, PHE juga melakukan Pemboran Eksplorasi sebanyak 15 sumur dan Pemboran Development sebanyak 44 sumur.  Dengan aktivitas ini maka cadangan migas (P1) memperoleh tambahan sebesar 36,47 MMBOE.

“Kinerja yang cukup baik ini tidak  terlepas dari andil kerja sama semua insan PHE secara gigih serta inovatif mengelola bisnis migas walaupun  bisnis migas kini dalam kondisi berat, di mana harga minyak dunia bahkan sempat terkoreksi hingga angka di bawah 30 dolar per barel,” tuturnya.

Tahun ini, target produksi minyak PHE ditetapkan sebesar 63.900 barel per hari (bph). Angka ini lebih rendah dari realisasi produksi 2015 yang sebesar 66.300 bph. Pada 2016 turun karena ada beberapa struktur anak usaha yang laju penurunan produksi (decline rate) cukup tajam, salah satunya Blok West Madura Offshore (WMO) yang sangat pengaruh ke produksi PHE secara keseluruhan.

Sedangkan untuk target produksi gas PHE di 2016  akan turun tipis menjadi 652 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd) dari tahun lalu 678 mmscfd. Sebenarnya, PHE mendapat tambahan produksi gas lantaran Blok Senoro sudah berproduksi penuh. Penurunan produksi gas pada tahun ini lebih karena melemahnya permintaan.

“Saat ini kita sudah menambah anak perusahaan lagi, di antaranya PHE NSO-NSB, PHE Siak, PHE Kampar dan yang terakhir PHE Ambalat Timur. Tantangan cukup berat, untuk itu PHE perlu bersinergi antar AP Hulu, AP Pertamina dan AP PHE serta meneruskan apa-apa yang telah dilakukan para senior,” ucap Gunung.

PHE saat ini memiliki sejumlah 57 anak perusahaan dengan 53 wilayah kerja aktif yang bergerak di bidang usaha minyak, gas, dan CBM. Selain itu juga memiliki saham pada 6 buah Perusahaan Patungan, 3 buah perusahaan afiliasi yang bergerak di bidang upstream dan midstream migas. RH