Senin, 18 Juli 2016

Pemerintah Dorong Agar Produksi Minyak East Natuna Didahulukan Ketimbang Gas

IGN Wiratmaja Puja, Dirjen Migas
Kementerian ESDM.
Foto: Ridwan Harahap
Jakarta, OG Indonesia -- Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja mengatakan agar potensi migas di Blok East Natuna dapat cepat dimanfaatkan dapat dilakukan dengan cara mengembangkan potensi minyaknya terlebih dahulu ketimbang gas. Hal tersebut tentunya sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo agar potensi migas di Natuna dapat cepat dikembangkan.

"Untuk mempercepat kita sudah ada beberapa strategi," terang Wiratmaja kepada wartawan termasuk OG Indonesia di sela-sela acara Halal Bihalal di Gedung Kementerian ESDM Jakarta, Senin (18/07). Salah satunya dikatakan oleh Wiratmaja dengan memproduksikan minyak terlebih dahulu ketimbang gas. "Kita akan develop dulu minyak supaya lebih murah biayanya," tambahnya.

Ia mengungkapkan diperkirakan paling cepat dibutuhkan waktu sekitar 3 tahun hingga akhirnya minyak dari Blok East Natuna bisa diproduksi. "Minyaknya memang enggak terlalu besar cadangannya. Jadi reservoirnya di atasnya gas, di bawahnya minyak. Kalau kita produksi minyak dahulu itu lebih cepat walaupun memang skalanya kecil, mungkin produksinya sekitar 7.000-15.000 (barel per hari)," bebernya.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan siap untuk mengembangkan minyak lebih dahulu di Blok East Natuna. "Pemerintah mengarahkan dan mendorong agar minyaknya didahulukan," kata Dwi di tempat yang sama. Seperti diketahui di ladang migas East Natuna, Pertamina bersama PTTEP dan Exxon Mobil sedang melakukan joint study untuk pengembangan blok tersebut.

"Kita menemukan beberapa solusi untuk memulai lebih dahulu (produksi) minyak," ungkap Dwi. "Itu bisa diharapkan (mulai) tahun ini, kemudian tiga tahun ke depan bisa produksi," tambah Dwi seraya mengatakan bahwa untuk mengejar target tersebut maka PSC-nya harus segera disiapkan pada tahun ini juga.

Sementara itu Haposan Napitupulu, Tenaga Ahli Menko Kemaritiman dan Sumberdaya Bidang Energi, menegaskan bahwa untuk memproduksi minyak memang lebih cepat dibandingkan dengan memproduksi gas. "Yang paling cepat memang ngebor ini (minyak). Kalau ngebor gas itu nanti gasnya harus dipisahkan dulu, bikin fasilitas produksinya lagi, itu butuh 5-10 tahun," jelasnya kepada OG Indonesia di acara FGD "Aspek Hukum Reklamasi dan Potensi Natuna" di Gedung BPPT Jakarta, Senin (18/07).

Ditambahkan oleh Haposan untuk memproduksi minyak, tidak perlu menyiapkan fasilitas produksi yang rumit serta mahal. "Jadi bisa cepat 2-3 tahun bisa selesai," jelasnya. "Cuma dengan harga minyak 40 dollar sekarang apakah ekonomis tidak? Jadi harus dihitung dahulu biayanya," tandas Haposan. RH