Sabtu, 02 Juli 2016

Tripatra dan Saipem Pimpin Pengerjaan Proyek Kilang LNG Tangguh Train 3

BP Regional President Asia Pacific
Christina Verchere menerima dokumen
FID proyek kilang Tangguh Train 3 dari
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.
Foto: Ridwan Harahap
Jakarta, OG Indonesia -- Pembangunan proyek kilang LNG Tangguh Train 3 akan menggandeng konsorsium yang dipimpin oleh PT Tripatra Engineering untuk pengerjaan EPC onshore dan PT Saipem Indonesia untuk pengerjaan EPC offshore.

Seperti diketahui, pemerintah telah memutuskan proyek hulu migas tersebut terus berlanjut setelah nilai investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek pembangunan fasilitas tersebut diputuskan. 

"Jadi proyek Tangguh Train 3 sudah disiapkan cukup lama. Dulu POD-nya dipersiapkan nilai investasi US$ 12 miliar, tetapi realisasinya setelah tender-tender EPC terlaksana, diperkirakan nilai investasinya sekitar US$ 8 miliar. Jadi memang ada harga yang lebih murah," kata Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi saat acara Penetapan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Kilang LNG Tangguh Train-3 di kantor Kementerian ESDM, Jumat (01/07).

Diterangkan Amien, penyebab turunnya nilai investasi tersebut dikarenakan turunnya harga pengerjaan EPC seiring turunnya harga minyak dunia. "Tentunya kualitas proyek tidak akan turun," ucap Amien mengingatkan.

SKK Migas sendiri sudah me-review pengadaan dan menyetujui penunjukkan pemenang terkait pembangunan proyek kilang LNG Tangguh Train 3 ini. "Untuk paket onshore LNG EPC, kontraktor yang ditunjukan sebagai pemenang adalah konsorsium CSTS (Chiyoda, Saipem, Tripatra, dan Suluh Ardhi), leader-nya adalah PT Tripatra Engineers and Constructors dengan total nilai kontrak US$ 2,43 miliar," papar Amien. 

Sementara untuk proyek EPC Offshore, Amien mengungkapkan yang ditunjuk untuk melaksanakan adalah PT Saipem Indonesia dengan nilai kontrak US$ 448 juta. "Kemudian untuk pengerjaan line pipe, kontraktor yang ditunjuk adalah PT Agcia Pertiwi, nilai kontraknya setara dengan US$ 60 juta," ujarnya.

Pekerjaan terakhir adalah terkait pengadaan mesin-mesin. "Untuk pekerjaan Turbomachinery (pengadaan permesinan), kontraktor yang kita pakai adalah General Electric (GE) dan Nouvo Pignone. Jadi ada yang dari Amerika (GE) dan Italia (Nouvo Pignone)," terangnya.

Jika selesai nanti, proyek ini diproyeksikan akan menyumbang tambahan 3,8 million tons per annum (mtpa) terhadap kapasitas produksi Kilang LNG Tangguh, sehingga total kapasitas kilang akan menjadi 11,4 mtpa. 

Proyek Kilang LNG Tangguh mencakup tiga blok wilayah kerja, yakni Berau, Muturi dan Wiriagar. Train 3 menambah 2 anjungan lepas pantai, 13 sumur produksi baru, dermaga LNG baru, dan infrastruktur pendukung lainnya. 

Amien menambahkan, Kilang LNG Tangguh Train 3 ini besar artinya bagi Program 35.000 MW. Sebesar 75% dari produksi tahunan LNG dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang berarti setara dengan 3.000 MW listrik bagi Indonesia. “Proyek ini juga untuk memenuhi kebutuhan gas bagi kelistrikan di Provinsi Papua Barat hingga 20 mmscfd,” sambung Amien.

Proyek Kilang LNG Tangguh Train-3 sendiri dioperasikan oleh BP Berau Ltd sebagai kontraktor mitra utama SKK Migas yang memegang saham mayoritas, yakni 37,16%. Terdapat enam kontraktor mitra Tangguh lainnya yang digandeng BP,  yakni: MI Berau BV (16,30%), CNOOC Muturi Ltd (13,90%), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,23%), KG Berau/KG Wiriagar (10,00%), Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35%), dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd (3,06%). RH