Sabtu, 06 Agustus 2016

Faisal Basri: Akuisisi PGN oleh Pertamina Bukan Jalan Keluar

Faisal Basri tak setuju PGN
jadi anak usaha Pertamina.
Foto: Wikipedia
Jakarta, OG Indonesia -- Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri tidak setuju jika PGN berada di bawah Pertamina. Sebab transparansi harus tetap menjadi hal utama dalam pengelolaan bisnis migas agar mafia tidak lagi bisa merajalela.

"Kita tidak tahu apa di Pertamina ada mafia migasnya? Kan dia belum go public, jadi janganlah yang jelek mengakuisi yang bagus," kata Faisal Basri dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (06/08). "Nah kalau PGN lebih susah dijarah karena go public. Itu kalau akuisisi (PGN oleh Pertamina) adalah logika yang tidak jelas," ungkap Faisal.

Menurutnya, akuisisi PGN oleh Pertamina bukanlah jalan keluar dalam persoalan holding energi. Regulasi yang dibutuhkan adalah bagaimana melakukan sinergi untuk efisiensi bukan pencaplokan.

"Kalau saya menolak, tidak menganggap itu jalan keluar, yang dibutuhkan adalah regulasi menyinergikan infrastruktur energi yang efisien. Tujuannya yang nyata sebenarnya di sektor bank, harusnya digabung malah tidak dilakukan," kata Faisal.

Ia pun menyatakan bahwa konsep holding yang dimunculkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno merupakan sesuatu konsep yang tidak jelas. "Dalam konsep holding memang banyak ngaconya ini rencana BUMN. Seperti di antaranya ingin bank syariah BUMN konsolidasi. Padahal bank syariah BUMN share-nya hanya 20 persen dari total perbankan," tutur Faisal seraya mengingatkan bahwa seharusnya BRI dan Mandiri digabung sehingga nantinya kedua entitas tersebut bisa memiliki aset superbersar dan mampu mengumpulkan dana yang banyak. 

Untuk holding energi dengan rencana akuisisi PGN oleh Pertamina, menurutnya hal tersebut juga tidak jelas. "Jadi, Ibu Rini sangat tidak jelas konsepnya. PGN kan sudah go public, Pertamina tidak go public, tidak go public mengakuisisi yang go public, konsepnya mau dibawa kemana?" tegasnya kembali. RH