Jumat, 19 Agustus 2016

ICDX Segera Kelola PLB untuk Timah di Marunda

Dari kiri ke kanan: Henry Chandra (Presdir
ILB), Dorothea Sigit (Kepala Seksi PLB),
Bachrul Chairi (Kepala BAPPEBTI),
dan Megain Widjaja (CEO ICDX).
Foto: Ridwan Harahap
Jakarta, OG Indonesia -- Guna meningkatkan daya saing industri timah Indonesia, Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) akan segera mengelola Pusat Logistik Berikat (PLB) untuk komoditas timah. 

Seperti diketahui sejak Maret 2016 lalu, Presiden Joko Widodo telah menggiatkan pembangunan PLB di berbagai wilayah untuk mengurangi biaya logistik yang tinggi serta dwelling time yang masih cukup lama. Dan sampai saat ini sudah ada sekitar 20 PLB yang dibangun di berbagai wilayah di Indonesia.

Namun sayang, untuk komoditas andalan ekspor Indonesia ternyata PLB-nya masih banyak yang berada di luar negeri. "Ada lima komoditas besar yang menjadi komoditas orang lain, padahal semua asalnya dari Indonesia. Di antaranya timah, CPO, dan karet," terang Dorothea Sigit, Kepala Seksi Pusat Logistik Berikat (PLB) Direktorat Fasilitas Kepabeanan DJBC dalam konferensi pers di kantor ICDX, di Gedung The Capitol, Jakarta, Kamis (18/08).

Dorothea menerangkan, bahwa akhirnya pihaknya bersama dengan ICDX membangun PLB untuk komoditas timah dengan aturan yang berbeda dengan PLB lain. "PLB bursa komoditas itu adalah sebuah gudang yang multifungsi yang bisa juga melakukan perdagangan baik dari dalam maupun luar negeri. Komoditas bisa ditimbun di gudang tersebut dengan jangka waktu lebih dari tiga tahun," bebernya.

Diterangkan oleh Megain Widjaja, Chief Executive Officer of ICDX, salah satu alasan ICDX membangun PLB Timah yang akan berlokasi di Marunda, Jakarta Utara dengan nama ICDX Logistik Berikat (ILB) adalah untuk mengurangi country risk

"Sehingga ketika para pelaku pasar mau menaruh barangnya di ILB ini maka kami percaya financing rate yang akan diberikan oleh perbankan baik dari dalam dan luar negeri akan lebih kompetitif sehingga pelaku bisnis akan memiliki usaha yang lebih maju dan menguntungkan," paparnya panjang.

Untuk komoditas timah yang akan disimpan di ILB, Megain mengatakan Indonesia sebagai negara produsen timah terbesar kedua di dunia ternyata belum dominan dalam menentukan harga timah. Ia pun berharap, masuknya timah sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan di bursa berjangka dapat membuat harga timah dalam negeri tidak fluktuatif. Dengan fasilitas ILB untuk timah diharapkan juga dapat membantu Indonesia untuk ikut menentukan harga timah dunia.

Dijelaskan oleh Henry Chandra, President Director of ICDX Logistik Berikat, bahwa ILB akan dibangun di atas lahan seluas 15.141 meter persegi dengan luas bangunan warehouse sebesar 1.2000 meter persegi. ILB akan memberikan rasa aman dan terlindungi, karena ILB akan menjadi kawasan internasional sehingga kebal terhadap perubahan peraturan pemerintah Indonesia.

"Kalau timah sudah diperdagangkan dan disimpan di Indonesia maka posisi kita sudah benar-benar berdaulat," tegas Henry. Ia pun membuka data bahwa Indonesia selama ini juga kehilangan sekitar US$ 16 juta setiap tahunnya dari komoditas timah yang selama ini disimpan di Singapura. 

"Jika pada Oktober nanti semua perizinan sudah ada maka paling lambat 2-3 bulan setelah itu ILB ini sudah bisa jalan," ungkap Henry. "Dan selanjutnya tidak hanya untuk timah tapi juga untuk komoditas-komoditas lainnya," pungkasnya. RH