Jumat, 26 Agustus 2016

Jokowi: BUMN Harus Berkompetisi

Presiden Joko Widodo ingatkan
agar BUMN terus berkompetisi.
Foto: Biro Pers Setpres
Jakarta, OG Indonesia -- Presiden Joko Widodo meminta kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar dapat berkompetisi agar dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari negara lain.

Menurut Presiden, kompetisi antar negara dan kompetisi antara kawasan sudah tidak terhindarkan lagi. Oleh karenanya pemerintah terus berkomitmen untuk mendorong adanya keterbukaan dan kompetisi di negeri ini. 

“Setelah saya pelajari, orang kita kalau diberi kompetitor justru bergerak dengan sepenuh tenaga, yang diberi fasilitas, subsidi, dimanjakan justru tak berkembang,” ucap Presiden ketika memberikan sambutan pada Silaturahmi dan Dialog Nasional Ikatan Senior HIPMI Indonesia (ISHI) di Hotel Raffles Jakarta, Jumat (26/08).

Presiden menjelaskan bagaimana kompetisi di perbankan telah mendorong bank-bank BUMN menjadi lebih efisien. Saat belum memiliki pesaing, bank-bank BUMN pada pukul 13.00 sudah tutup. 

Tapi begitu kompetisi dibuka, pelayanan dituntut menjadi lebih baik, sehingga tidak jarang pegawai bank-bank BUMN baru menyelesaikan pekerjaan pada pukul 22-23. Bahkan bank-bank BUMN tersebut mendapat keuntungan yang lebih baik saat diberikan pesaing. “Inilah kalau kita dampingi dengan kompetisi. Kalau tidak, ya tadi begitu,” ujar Presiden.

Demikian pula dengan SPBU Pertamina ketika pada tahun 1975-1990 suasananya kumuh. “Begitu dikompetisikan, kita lihat pompa bensin milik kita perbaiki diri. Seragam semua, karena merasa ada yang saingi. Saya kira psikologis seperti itu,” ucap Jokowi.

Presiden pun mengingatkan tentang kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business di mana peringkat Indonesia berada pada urutan 109, sementara Singapura pada peringkat 1, Thailand berada di posisi 49. “Oleh karena itu, saya minta Menko Perekonomian tahun depan kita naik ke 40,” ungkapnya.

Memang diakui Presiden, memperbaiki peringkat menjadi berada di peringkat 40 bukanlah sesuatu yang mudah, sehingga perlu dilakukan berbagai perbaikan agar mendorong kemudahan berusaha. Perbaikan ini memerlukan keberanian melakukan perubahan dan terobosan-terobosan. “Harus berani, kalau tidak akan seperti ini terus dan tertinggal dengan negara lain,” tutup Jokowi. RH