Senin, 05 September 2016

Akuisisi Perusahaan Migas Perancis, Pertamina Terancam Rugi

Foto: Istimewa
Jakarta, OG Indonesia -- Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu mendesak Menteri BUMN Rini Soemarno agar segera memanggil Direksi Pertamina untuk mengelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan mengganti Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

Pergantian ini karena Dwi Soetjpto dinilai telah membawa bisnis pertamina terancam merugi akibat aksi korporasi melakukan akuisisi saham perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Perancis, Maurel et Prom (MP) yang dimiliki oleh Pacifico.

“Begini ya, akuisisi 24,5 persen perusahaan migas perancis MP, berpotensi merugikan Pertamina, sebab dalam 2 tahun terakhir ini kinerja keuangan MP tidak bagus. Hal ini tertera melalui banyaknya anak perusahaan dan kantornya MP tutup serta bergabung kembali atau merger dengan bekas anak perusahaan yaitu MP international, serta menghentikan semua usaha melakukan ekplorasinya,” kata Tri Sasono, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu dalam siaran pera yang diterima OG Indonesia di Jakarta, Senin (05/09).

Sedangkan  usaha  penambangan  MP yang jalan hanya di Gabon dan Tanzania dan itupun kecil. Jadi sebaiknya diucapkan Tri Sasono, Menteri BUMN harus memanggil Dirut Pertamina dan segera menggelar RUPS untuk segera dicopot.

Ia pun membeberkan kondisi utang MP kepada kreditur yang kondisinya sudah banyak yang jatuh tempo. "Artinya Pertamina yang membeli saham MP dengan harga 4,2 euro per lembar saham ‘sama saja menggarami air laut’ dan membawa kerugian besar," ucapnya.

Di samping itu, dijelaskan olehnya, sejak harga minyak jatuh, perusahaan MP sangat terdegradasi secara pendapatan dan hasil minyak dan gasnya mengalami penurunan mendadak dimulai sejak musim panas tahun 2014 hingga terus melemah hingga sekarang. Lalu pada tahun 2015 semua sektor minyak MP telah mengurangi investasi produksi migasnya  dan program eksplorasi dengan komitmen kontrak yang minim.

“Hanya alasan klise saja kalau ada yang mengatakan hasil penambangan minyak dan gas dari MP itu bisa dibuat sebagai program ketahanan energi, itu enggak mungkinlah wong perusahaan sudah mulai mau bangkrut, kok dibeli. Nah ini juga gambaran kalau Menteri BUMN itu sudah dibohongi oleh Dirut Pertamina dalam melakukan pembelian MP,” tegasnya.

Terakhir Tri Sasono menyampaikan bahwa kalau ditinjau dari aspek keuangan data EBITDA perusahaan MP mengalami penurunan hampir 200 persen dari 352 juta euro pada tahun 2014 menjadi 107 juta euro di tahun 2015.

"Kemudian hasil penjualan produknya juga ikut terjun bebas dari 550 juta euro menjadi 276 juta euro, belum lagi nilai sahamnya yang terus terjun bebas dari kisaran 15 euro per lembar jatuh di kisaran 4 euro per lembar," pungkasnya. RH