Selasa, 17 Januari 2017

Berkat Jargas Surabaya, Warga Tak Perlu Menenteng Tabung Lagi

Foto: migas.esdm.go.id
Surabaya, OG Indonesia -- Sebanyak 24.000 rumah di Kota Surabaya tengah bergembira. Jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga (jargas) di kota tersebut kini bertambah dengan mengalirnya gas bumi yang dibangun dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2016 tersebut, secara bertahap.

"Sejak mengalir beberapa hari lalu, tidak ada kendala. Semuanya lancar. Kami tidak perlu mencari LPG tabung 3 kg lagi," kata Nurul Hadi, Ketua RT 07 Rusunawa Penjaringansari, Senin (16/01).

Nurul Hadi mewakili warga Kota Surabaya yang senang karena kini dapat menikmati gas bumi yang aman, bersih dan murah. Sekarang, ia tidak perlu repot lagi harus menenteng tabung LPG 3 kg dari warung ke rumahnya yang berada di lantai 2. Setiap bulan, ia membutuhkan LPG sebanyak 2 tabung. "Lumayan sudah tidak perlu nenteng, tinggal ceklek saja, gas mengalir," katanya.

Saat sosialisasi pembangunan jargas dilakukan, papar Nurul, tidak ada warganya yang menolak karena sebelumnya mereka telah mengetahui manfaat gas bumi dari tetangga yang telah terlebih dahulu menikmatinya. Penghematan menggunakan jargas diperkirakan sekitar 30-50% per bulan dibandingkan menggunakan LPG.

Walikota Surabaya Tri Rismahartini mengatakan, masyarakat Surabaya memahami bahwa menggunakan gas bumi lebih aman dan murah. Banyak diantara mereka mengirimkan surat permintaan agar daerahnya dapat dipasangi jargas. 

Manfaat menggunakan gas bumi, lanjut dia, sangat dirasakan oleh kampung-kampung yang warganya membuka usaha seperti kampung kue dan kampung lontong. Berkat menggunakan gas bumi, masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan dan memperbaiki rumah. "Dulu rumahnya jelek-jelek, kumuhlah. Sekarang meski nggak bagus, mereka bisa memperbaiki rumahnya," jelas Risma di kantornya, Senin (16/01).

Risma mengusulkan, agar pembangunan jargas dapat lebih cepat dan tidak memberatkan keuangan negara, bagi masyarakat menengah ke atas yang ingin menggunakan gas bumi di rumahnya, dapat diminta untuk menanggung sendiri biaya pemasangannya. "Yang (termasuk) middle biar bayar sendiri. Senang mereka pasti karena nggak tergantung sama orang. Kalau Lebaran, toko nggak buka, cari LPG bingung," tambahnya.

Usulan ini disambut baik Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja. Menurut Wirat, pada tahap awal, dana APBN yang dikucurkan Pemerintah untuk membangun jargas memang bertujuan agar masyarakat terbiasa menggunakan gas bumi. Setelah terbiasa, mereka bisa mendanai sendiri pembangunannya. Pemerintah dapat membantu dengan membangun infrastruktur pipa di jalan-jalan. Sedangkan untuk biaya pemasangan ke rumah-rumah, ditanggung sendiri.

Program ke depan, lanjut Wirat, untuk kota-kota yang jargasnya telah terbangun dan tercapai critical mass-nya yaitu sebanyak 20.000 SR, masyarakat akan membayar sendiri pembangunan jargas. Pembangunan jargas telah dilakukan sejak 2009 dengan Surabaya dan Palembang sebagai percontohan. Untuk tahun 2017, rencananya akan dibangun sekitar 53.000 hinggs 59.000 SR di 10 lokasi. RH