Selasa, 31 Januari 2017

Kemenperin Tegaskan Pentingnya Hilirisasi Mineral di Dalam Negeri

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Peningkatan nilai tambah dari sumber daya alam penting untuk terus dilakukan termasuk dari sektor pertambangan. Karena itu program hilirisasi mineral sangat didorong oleh pihak Kementerian Perindustrian.

Hal tersebut dikatakan oleh Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar pada acara seminar "Indonesia Economic Outlook 2017" yang diadakan di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (31/01). "Sektor perindustrian ini mendorong program hilirisasi," ucap Haris.

Dipaparkan olehnya, dari sektor pertambangan, sekarang ini di Morowali, Sulawesi Tengah, sudah bisa diproduksi nickel pig iron sebagai turunan dari hasil tambang nikel. "Ini akan menjadi industri stainless steel. Di mana dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekitar tahun 2018-2019 kita bisa menghasilkan 4 juta ton stainless steel," kata Haris.

Dengan produksi sebesar itu, Indonesia diperkirakan akan menjadi produsen terbesar ketiga stainless steel di dunia setelah Tiongkok dengan 6 juta ton dan Eropa dengan produksi 5 juta ton.

Dilanjutkan Haris, untuk bauksit, seharusnya Indonesia tak lagi mengekspor bauksit ore ke luar negeri dan kemudian malah mengimpor alumina sebagai produk turunannya untuk dijadikan alumunium. "Dengan tumbuhnya industri alumunium di dalam negeri kita harapkan tidak lagi impor alumina dari luar negeri," tuturnya.

Nilai tambah dari kegiatan pengolahan hasil tambang mineral di dalam negeri memang bisa berlipat ganda. Dijelaskan oleh Haris, untuk nickel ore yang harganya sekitar USD 30 per metrik ton. 

"Tapi begitu dia jadi nickel pig iron sekitar USD 1.400 per metrik ton. Apalagi kalau dia sudah menjadi stainless steel, itu lebih tinggi lagi, atau sampai menjadi sendok dan garpu," tegasnya. RH