Jumat, 06 Januari 2017

Pekerja Chevron Sambut Baik Kehadiran Sementara Pertamina di Blok Attaka

Jakarta, OG Indonesia -- Kementerian ESDM berencana akan menggabung dua kontrak bagi hasil produksi migas (Production Sharing Contract/PSC) yang akan habis dalam waktu dekat. Kedua Wilayah Kerja (WK) migas tersebut adalah East Kalimantan (East Kal) dan Attaka yang dikelola oleh Chevron Indonesia Company (Cico) sebagai operator.

Dikatakan oleh Tunggal, Direktur Pembinaaan Usaha Migas Ditjen Migas Kementerian ESDM, seperti dikutip dari cnnindonesia.com, penggabungan kedua WK tersebut dikarenakan lokasi keduanya yang tak terlampau jauh, sama-sama berada di sisi timur pulau Kalimantan.

Selain itu, tanggal habis kontrak kedua blok yang tak lagi diperpanjang oleh pihak operatornya tersebut tak berselisih terlalu lama. Di mana Blok Attaka akan habis masa kontraknya pada akhir tahun 2017. Sementara, Blok East Kal selesai tanggal 24 Oktober 2018. 

Untuk mengisi jeda kekosongan waktu sekitar 10 bulan tersebut, Pertamina akan ditunjuk sebagai pengelola sementara di Blok Attaka, sebelum penandatangan PSC baru yang merupakan gabungan dari Attaka dan East Kal dilakukan.

Menanggapi hal tersebut, Indra Kurniawan, Ketua Umum Serikat Pekerja Nasional Chevron Indonesia (SPNCI) yang juga menaungi pekerja Cico di East Kal dan Attaka, mengatakan mendukung dengan adanya keputusan pemerintah melalui Kementerian ESDM tentang penunjukan kepada pihak Pertamina untuk mengelola sementara Blok Attaka.

"SPNCI menyambut baik hal tersebut dan kiranya dapat segera diikuti dengan penetapan pengelola permanen untuk Blok PSC East Kal dan Unitisasi dengan Blok Attaka," kata Indra Kurniawan kepada OG Indonesia, Jumat (06/01).

Selanjutnya, SPNCI mendorong pihak manajemen Chevron Indonesia Company untuk segera membahas aspek hubungan Industrial bagi pekerja Cico yang saat ini bekerja di Attaka PSC, demikian pula persiapan dalam alih kelola dengan Pertamina.

"SPNCI meminta kepada Pemerintah dan pengelola baru nantinya untuk memastikan jaminan keberlangsungan pekerjaan (job Security) kepada semua Karyawan Cico," ucap Indra.

Dilanjutkan olehnya, SPNCI juga meminta kepada manajemen Cico untuk membahas lebih jelas beberapa hal penting berkaitan dengan berakhirnya kontrak PSC terhadap hubungan Industrial pekerja.

"Antara lain, pertama tentang status pekerja Cico yang berada di luar Cico saat ini (Secondee Employee). Kedua soal mekanisme pembayaran pesangon melalui DPLK. Dan ketiga terkait keberlangsungan pekerjaan (job security)," papar Indra.

Ditambahkan Indra, pihaknya menaruh harapan besar kepada pemerintah melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas agar proses penetapan pengelola baru bisa lebih cepat dan dapat memastikan proses alih kelola terutama dari aspek pekerja.

"Ini demi tetap terjaminnya operasi yang lancar dan aman untuk tercapainya target lifting seperti yang telah dicapai di tahun 2016," tutup Indra. RH