Sabtu, 14 Januari 2017

Tahun 2017, PTTEP Fokus Investasi Migas di Thailand dan Asia Tenggara

Foto: pttep.com
Bangkok, OG Indonesia -- Perusahaan migas nasional Thailand, PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP) mengumumkan rencana pengeluaran sebesar US$ 2,9 miliar pada tahun 2017 ini. Di mana fokus investasi migasnya berada di dalam negeri Thailand dan kawasan Asia Tenggara.

Rinciannya, sebesar US$ 1,6 miliar sebagai Capital Expenditure (Capex), dan sisanya sebesar US$ 1,3 miliar sebagai Operating Expenditure (Opex). 

"Investasi untuk proyek existing yang berada di Thailand dan Asia Tenggara yang merupakan lokasi investasi strategis perusahaan, diperkirakan mencapai 88% dari total rencana Capex," demikian keterangan tertulis di situs resmi PTTEP pada Selasa (10/01).

Rinciannya, untuk proyek-proyek di Thailand akan menyedot 64% anggaran Capex di 2017. Kegiatan utama adalah untuk mempertahankan tingkat produksi di proyek existing, seperti Arthit Project, S1 Project, Bongkot Project, Contract 4 Project dan MTJDA Project.

Sementara untuk proyek-proyek di wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai 24% dari Capex PTTEP di 2017. Kebanyakan adalah untuk proyek-proyek migas yang berada di Myanmar. Seperti mempertahankan produksi migas di Zawtika Project dan Yadana Project, serta untuk kegiatan eksplorasi di Myanmar MOGE 3 Project dan Myanmar M11 Project.

Sementara sisa CAPEX yang sebesar 12% akan dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan PTTEP di berbagai negara di Australia, Afrika, serta Amerika Utara dan Amerika Selatan. Di mana sebagian besar pengeluaran untuk kegiatan di PTTEP Australasia Project serta pra pengembangan Rovuma Offshore Area 1 Project di Mozambik. 

Lebih lanjut, pihak PTTEP menjelaskan perkiraan biaya eksplorasi perusahaan di tahun 2017 adalah sebesar US$ 138 juta, yang kebanyakan digunakan untuk kegiatan akuisisi seismik, studi geologi dan geofisik, serta pengeboran dan kegiatan aprraisal.

PTTEP sendiri dalam kurun waktu lima tahun ke depan, dari tahun 2017-2021, telah menetapkan dana sebesar US$ 14,9 miliar untuk kegiatan-kegiatannya. Anggaran tersebut telah disesuaikan dengan kondisi harga minyak pada akhir tahun 2016. RH