Rabu, 22 Februari 2017

Bandingkan Freeport dengan Industri Rokok, YLKI Protes Menteri Jonan


Tulus Abadi, Ketua Pengurus
Harian YLKI.
Foto: mpr.go.id
Jakarta, OG Indonesia --
Terkait sengkarut Pemerintah dengan PT Freeport Indonesia, Menteri ESDM Ignasius Jonan membandingkan Freeport dengan industri rokok. Jonan mengatakan setoran pajak Freeport hanya Rp 8 triliun tapi rewel, dibandingkan dengan setoran cukai rokok Rp 135 triliun tapi tidak rewel.


Dikatakan oleh Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, bahwa perlawanan Pemerintah terhadap Freeport patut didukung. Namun ia menyayangkan pernyataan Menteri Jonan yang membandingkan kontribusi Freeport dengan kontribusi industri rokok. 

"Itu adalah pernyataan yang lebay bahkan menyesatkan," kata Tulus Abadi dalam keterangan tertulis YLKI, Rabu (22/02).

Ia pun memaparkan bahwa cukai rokok Rp 135 triliun bukan dibayar oleh industri rokok, tapi dibayar oleh konsumen perokok. "Jadi bukan industri rokok yang membayar Rp 135 triliun. Tapi masyarakat Indonesia yang merokok. Karena cukai dibayar perokok," terangnya.

Dilanjutkan oleh Tulus, bahwa industri rokok di Indonesia justru rewel dan melakukan perlawanan terhadap regulasi. 

"Industri rokok adalah industri yang paling bandel karena tidak mau diatur pemerintah. Itulah perilaku industri rokok besar di Indonesia yang acap melakukan perlawanan dan pembangkangan terhadap regulasi dan kebijakan pemerintah," paparnya.

Ditambahkan olehnya, angka Rp 135 triliun dari cukai rokok itu ternyata masih sangat kecil. Karena seharusnya pemerintah bisa mendapatkan cukai rokok sekitar Rp 300 triliun. "Aalagi jika dibandingkan dengan dampak sosial ekonomi dari konsumsi rokok, maka angka Rp 135 triliun itu tidak ada apa-apanya," ucapnya.

Karena itu, YLKI mendesak Menteri ESDM untuk tidak membandingkan masalah Freeport dengan industri rokok. Dan mendesak untuk merevisi pernyataan tersebut. 

"Pernyataan Jonan terhadap cukai rokok, selain menyesatkan dan salah, juga akan membuat industri rokok makin besar kepala," pungkasnya. RH