Jumat, 03 Februari 2017

Gas Ikutan Banyu Urip Diinjeksikan Kembali untuk Tingkatkan Produksi Minyak

Djoko Siswanto, Direktur Teknik dan
Lingkungan Migas Kementerian ESDM
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Proses penyelesaian dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) agar Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu dapat memproduksi minyak hingga 200 ribu barel per hari (bph) diperkirakan akan beres paling cepat dalam 3 sampai 6 bulan ke depan.

Saat ini SKK Migas dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) selaku operator sudah menyampaikan dokumen AMDAL kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mendapatkan persetujuan berproduksi sampai 200.000 bph. Sebelumnya, AMDAL yang dimiliki oleh Proyek Banyu Urip hanya untuk produksi minyak sebesar 185.000 bph.

"AMDAL itu paling cepat bisa 3 sampai 6 bulan. Mungkin bulan April paling cepat, mudah-mudahan," ungkap Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Ditjen Migas, Kementerian ESDM Djoko Siswanto kepada OG Indonesia di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta, Kamis (02/02).

Diterangkan Djoko, bahwa dirinya sudah memberikan rekomendasi kepada pihak KLHK terkait AMDAL tersebut, dan saat ini tengah diproses administrasinya. "Jadi di sana ada SOP harus ada komite rapat yang berdiskusi untuk rencana menaikkan jadi 200 ribu barel per hari," terangnya.

Secara teknis di lapangan, dikatakan Djoko, uji coba menaikkan produksi minyak sampai 200.000 bph tersebut sudah dilakukan. "Itu tidak menambah fasilitas, dan sekarang uji cobanya sudah sampai 200 ribu dan berjalan lancar," tuturnya.

Salah satu poin menarik yang disampaikan Djoko adalah terkait gas ikutan yang selama ini jadi flare gas alias dibakar yang akan dimanfaatkan kembali untuk membantu dan mendorong produksi dari 185.000 bph menjadi 200.000 bph. 

Di mana gas yang keluar yang tadinya dibakar ke udara bisa diinjeksikan kembali ke dalam. "Gasnya diinjeksikan kembali untuk menambah tekanan supaya produksinya bisa meningkat. Jadi menambah tekanan supaya minyaknya banyak keluar," ujarnya.

Djoko menjelaskan proses menginjeksikan kembali gas ke dalam untuk mendorong minyak sangat aman dan sudah terbukti berjalan lancar dalam uji coba. "Awalnya gas kan dari dalam bumi, paling aman kita kembalikan lagi ke rumahnya. Asalnya dari situ kita kembalikan ke situ," papar Djoko.

Produksi minyak Proyek Banyu Urip yang sebesar 185.000 bph sudah sekitar 20% dari produksi minyak mentah nasional. Pada tahun 2016, Proyek Banyu Urip melebihi target produksi hingga 106% pada tingkat produksi 171.000 bph. Sementara target lifting pada tahun 2017 ditargetkan berada pada tingkat produksi 200.000 bph dan akan mendukung hingga 24% dari target produksi minyak nasional. RH