Minggu, 05 Februari 2017

Indonesia Harus Manfaatkan Cangkang dan Bungkil Sawit untuk Energi Biomassa

Bayu Krisnamurthi, Mantan Direktur
Utama BPDP Kelapa Sawit.
Foto: Hrp
Kabupaten Bogor, OG Indonesia -- Adanya permintaan yang tinggi terhadap cangkang dan bungkil kelapa sawit dari negara-negara maju seperti Jepang dan Korea harus menyadarkan pihak-pihak di Indonesia untuk mengembangkan energi biomassa dari kelapa sawit tersebut di dalam negeri.

Dikatakan oleh mantan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Bayu Krisnamurthi, permintaan negara seperti Jepang dan Korea akan cangkang dan bungkil sawit mencapai 30 juta ton per tahun. Di mana Indonesia saat ini mengekspor sekitar 5,2 juta ton per tahun. 

"Cangkang dan bungkil itu barang bagus, tapi saya justru menganjurkan pengusaha lokal belajar dari permintaan Jepang dan Korea, untuk membangkitkan investasi pemanfaatan biomassa (di dalam negeri). Karena mereka (Jepang dan Korea) memanfaatkannya untuk clean energy," kata Bayu kepada wartawan, Sabtu (04/02).

Menurutnya, Indonesia seharusnya tidak menjual energi bersih yang berlimpah ke luar negeri tapi harus berupaya untuk bisa memanfaatkannya. "Kenapa kita harus jual clean energy kita yang berlimpah terus malah impor dirty energy. Jadi bangunlah pembangkit listrik berbasis biomassa yang lebih banyak di dalam negeri," tegas Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) ini.

Ia pun mengingatkan cerita lama terkait sumber daya gas yang dulu diekspor, namun sekarang sudah nyaris akan impor. "Kita harus mulai dari sekarang untuk biomassa punya strategi yang tegas bahwa harus dimanfaatkan di dalam negeri, karena dunia akan mencari (sumber biomassa) itu," tutur Bayu.

Kelapa Sawit sendiri, dipaparkan Bayu, merupakan bahan baku produsen biomassa terbesar dari semua tanaman komersial. "28 ton per hektare itu biomassa yang dihasilkan dari sawit, itu paling besar dibandingkan dari yang lain," bebernya. 

Ditambahkan oleh Dosen Senior Departemen Agribisnis IPB ini, produk biomassa dari cangkang dan bungkil akan menjadi masa depan dari bisnis kelapa sawit. "Kalau petani (sawit) nilainya tak hanya dilihat dari minyak, tapi juga dari biomassa yang mereka hasilkan, maka harga minyak goreng tidak harus tinggi, bisa rendah, tapi kesejahteraan petaninya bisa tetap tinggi," ucapnya.

"Jadi kalau menurut saya sih, walau ada permintaan tinggi (akan cangkal dan bungkil) jangan buru-buru dijual," pungkas Bayu. RH