Selasa, 14 Februari 2017

Pantau Kualitas Udara, Greenpeace Luncurkan Aplikasi UdaraKita


Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia --
Greenpeace meluncurkan aplikasi berisi informasi kualitas udara pada hari ini, Selasa (14/02), di Jakarta. Aplikasi yang diberi nama UdaraKita ini dapat mengetahui kualitas udara berdasarkan perhitungan jumlah konsentrasi PM 2.5, salah satu polutan yang diketahui paling berbahaya.


"Data kualitas udara yang terdapat dalam aplikasi UdaraKita diambil dari rerata harian alat pemantau kualitas udara yang kami letakkan di 50 titik yang tersebar di Jabodetabek dan beberapa kota lain di Indonesia," kata Bondan Andriyanu, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Tingkat polusi udara di kota besar seperti Jakarta sudah sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Pada semester pertama 2016, tingkat polusi udara Jakarta sudah 4,5 kali lebih besar dari ambang batas yang ditetapkan WHO.

Sumber polusi udara di kota besar di Indonesia kebanyakan berasal dari dari transportasi dan pembangkit listrik yang masih mengandalkan bahan bakar fosil. Dan polutan udara yang paling berbahaya adalah PM 2.5 yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pernafasan serius bahkan hingga kanker paru-paru.

Tingginya kadar polusi udara di kota-kota besar ternyata belum mendapatkan perhatian khusus dari pihak pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari minimnya alat pemantauan kualitas udara yang datanya dapat diakses oleh masyarakat khususnya bagi kota-kota dengan tingkat polusi tinggi seperti Jakarta dan Bandung.

Karena itu Greenpeace menginisiasi aplikasi mobile "UdaraKita" yang sudah bisa diunduh secara gratis di Play Store agar masyarakat dapat mengakses data kualitas udara, seperti kadar PM 2.5. 

Dalam peluncuran aplikasi tersebut, Greenpeace menekankan pentingnya peran pemerintah untuk menangani masalah polusi udara dengan serius. "Rekomendasi kami adalah antara lain penyediaan pemantauan kualitas udara di seluruh wilayah Indonesia, khususnya kota-kota besar, serta mengurangi sumber penghasil polusi udara yaitu dari sektor transportasi dan energi," pungkasnya. RH