Jumat, 03 Februari 2017

Serikat Pekerja Tegaskan Agar Dirut Pertamina Bebas dari Anasir Politik

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Terkait dengan pencopotan Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama Pertamina, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Noviandri mengaku sangat terkejut.

"Tentunya sangat mengagetkan kita semua, kalau melihat dari sisi kinerja tentunya kita mahfum bahwa pada saat inilah kinerja Pertamina terbaik dengan mendapatkan profit hampir 40 T hingga mampu melampui profit dari raksasa Migas seperti Petronas," kata Noviandri dalam siaran pers yang diterima OG Indonesia, Jumat (03/02) malam. 

Menanggapi soal kepemimpinan "matahari kembar" di Pertamina yang selama ini menjadi berita, menurut Noviandri hal tersebut tak bisa hanya disalahkan kepada Dirut dan Wadirut saja, karena mereka punya tugas masing-masing yang harus diselesaikan.

"Tanggung jawab ini juga ada di Komisaris Pertamina, karena dengan adanya posisi Wadirut secara operasional tentu hal ini tidak terhindarkan. Maka kami mengusulkan untuk masa ke depan tidak perlu lagi ada jabatan Wadirut," tegasnya.

FSPPB sendiri menyadari bahwa keputusan pencopotan tersebut memang merupakan hak dari pemegang saham (Pemerintah), tapi FSPPB menekankan bahwa hal tersebut tak bisa dilakukan dengan sewenang-wenang. "Harus pada tujuan untuk lebih membuat Pertamina menjadi besar, maju dan menjadi andalan pemerintah dalam mendukung APBN baik dari sisi pajak maupun deviden," ucapnya.

Noviandri pun mengingatkan, langkah pergantian posisi puncak di Pertamina ini jangan sampai ditunggangi oleh agenda politik sehingga membuat Pertamina terbebani untuk berkembang. 

"FSPPB menyatakan siapa pun Direktur Utama Pertamina nantinya harus mampu membawa Pertamina lebih baik ke depan dan bebas dari anasir partai politik maupun kegiatan politik. Tantangan penyediaan BBM ke masyarakat kedepan semakin berat, dan Pertamina harus fokus sehingga ini terlaksana dengan baik," pungkasnya. RH