Jumat, 31 Maret 2017

PLTP Sarulla Capai Kapasitas 3x110 MW Pada Mei 2018

Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam
kunjungan kerjanya ke PLTP Sarulla.
Foto: EBTKE
Tapanuli Utara, OG Indonesia -- Menteri ESDM Ignasius Jonan melakukan kunjungan kerja ke PLTP Sarulla, di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (31/03). Menurutnya, keberadaan PLTP Sarulla sebagai salah satu PLTP terbesar di dunia telah mendorong adanya eksplorasi panas bumi menyesuaikan potensi energi di wilayah Sumatera Utara.

"Saya terima kasih sekali ini, mendorong adanya eksplorasi panas bumi. Tapi kalau bisa 1.000 MW, kita dorong. Apa yang bisa Pemerintah lakukan, kita akan dorong," ucap Jonan. 

PLTP Sarulla menjadi proyek pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) yang paling efisien di Indonesia dengan pemilihan teknologi yang tepat. "Ini PLTP yang menggunakan sistem combine cycle. Jadi menggunakan binary technology sehingga sisa buangan uapnya itu diolah lagi untuk menjadi tambahan kapasitas listrik. Kalau di teknologi lama, itu tidak ada," jelasnya. 

PLTP Sarulla dikembangkan di dua lokasi, yaitu di proyek Silangkitang (SIL) dengan kapasitas pengembangan sebesar 1x110 MW (Unit 1) dan proyek Namora - I - Langit (NIL) dengan kapasitas pengembangan sebesar 2x110 MW (Unit 2 dan 3).  

PLTP Sarulla Unit 1 telah beroperasi (Commercial Operation Date/COD) pada tanggal 18 Maret 2017 lalu. Unit ke-2 PLTP Sarulla dijadwalkan COD pada bulan 23 November 2017. Sementara untuk Unit ke-3, ditargetkan COD pada 23 Mei 2018. "Bila semuanya berjalan sesuai rencana, kapasitas pengembangan PLTP Sarulla (Unit 1, 2 dan 3) sebesar 3x110 MW," ungkapnya.

Proyek PLTP yang dikembangkan melalui skema Kontrak Operasi Bersama (KOB) antara PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dengan Sarulla Operation Limited (SOL) sesuai amandemen kedua KOB dan Energy Sales Contract (ESC) yang ditandatangani pada 14 April 2013. 

SOL merupakan konsorsium yang terdiri dari PT Medco Power Indonesia, Itochu Corporation (Jepang), Kyushu Electric Power Co., (Jepang) Inc, dan Ormat International, Inc (USA). Proyek dengan investasi sekitar USD 1,6 miliar ini jadi bukti ketertarikan swasta berinvestasi di sub sektor EBT. 

Kehadiran PLTP Sarulla juga sangat dibutuhkan untuk mengurangi defisit listrik di Provinsi Sumatera Utara. "Kita harapkan  dengan beroperasinya PLTP Sarulla dapat membantu daerah ini yang masih mengalami defisit listrik," tutup Jonan. RH