Jumat, 28 April 2017

Batan: Pemanfaatan Nuklir untuk Kesehatan Nyaris Tanpa Resistensi

Foto: Hrp
Tangerang Selatan, OG Indonesia -- Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) ternyata sudah lama berkontribusi dalam dunia kesehatan. Sejak tahun 2008, Batan melalui PTRR telah mengembangkan radiofarmaka, dan setelah melalui fase persiapan ijin edar produk-produk kesehatan yang dihasilkan diberikan ijin edar pada tahun 2014.

Berdasarkan data tahun 2016, potensi pasar produk-produk radiofarmaka secara global sekitar US$ 5 miliar. Pasar radiofarmaka tersebut diprediksi akan bertumbuh sekitar 9% dalam lima tahun ke depan.

Batan pun menginginkan Indonesia bisa mandiri mengembangkan teknologi nuklir lewat radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan, yang pada dasarnya sudah lama dikembangkan di dunia sejak beberapa dekade yang lalu. 

"Sebagai lembaga litbang nuklir, Batan tidak akan pernah berhenti meneriakkan dan mempromosikan bahwa Indonesia berpotensi mandiri dalam teknologi nuklir untuk kesehatan, khususnya produksi radioisotop dan radiofarmaka," kata Kepala Batan Djarot Sulsitio Wisnubroto kepada wartawan di Gedung PTRR Batan di kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (28/04).

PTRR Batan sendiri merupakan satu-satunya lembaga pemerintah di Indonesia yang diberi kewenangan untuk mengembangkan produk-produk radiofarmaka untuk kesehatan. PTRR Batan bahkan telah memiliki sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Ketersediaan produk radiofarmaka dapat menjadi alternatif atau bahkan menjadi pilihan terbaik untuk kebutuhan diagnosa dan pengobatan beberapa jenis penyakit yang saat ini masih belum memuaskan hasilnya bila menggunakan pengobatan produk farmasi biasa (non radiofarmaka).

"Ada lima produk radiofarmaka yang dibuat di PTRR Batan dan dimanfaatkan masyarakat secara luas," kata Kepala Bidang Teknologi Produksi Radiofarmaka Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan Rohadi Awaludin.

Rohadi pun merinci, yang pertama adalah Kit MIBI yang berfungsi mendiagnosa fungsi jantung guna mendeteksi penyakit arteri koroner dan mengevaluasi fungsi otot jantung. Kedua, ada Kit MDP untuk mendiagnosa tulang agar dapat mengetahui anak sebar tumor pada tulang.

Lalu ada DTPA untuk mendiagnosa fungsi ginjal dengan melakukan pencitraan pada ginjal untuk meliai perfusi ginjal. Keempat, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153Sm-EDTMP yang digunakan untuk terapi paliatif pada penderita kanker yang sudah metastasis.

Dan yang terakhir adalah Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131I-MIBG untuk mendiagnosa dan terapi pada kanker Nueroblastoma (sistem saraf anak-anak). "Bekerja sama dengan PT Kimia Farma, PTRR telah menghasilkan produk radiofarmaka yang dapat digunakan untuk kebutuhan diagnosa dan terapi medis," terang Rohadi.

Saat ini ada 12 rumah sakit yang telah memakai kit produk dari PTRR, antara lain Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Rumah Sakit MRCCC, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Karyadi Semarang.

"Saat ini baru ada belasan rumah sakit yang pakai kit dari fasilitas kedokteran nuklir. Kami dan Kementerian Kesehatan terus mendorong dan sosialisasikan penggunaannya," ucap Rohadi seraya mengungkapkan bahwa tak ada keluhan terkait produk radiofarmaka yang digunakan untuk keperluan kesehatan tersebut.

Hal tersebut diamini oleh Kepala Batan, menurutnya pemanfaatan nuklir untuk kesehatan memiliki sudut pandang yang unik di mata publik. Dalam arti, ketika sebagian masyarakat takut terhadap pemanfaatan nuklir untuk energi sampai pengawetan makanan, namun untuk keperluan kesehatan seperti untuk terapi dan diagnosa penyakit bisa lebih mudah untuk diterima.

"Pemanfaatan nuklir untuk kesehatan nyaris tidak ada resistensi. Namun ironisnya belum banyak rumah sakit yang memanfaatkan teknologi semacam ini," tutup Djarot. RH