Kamis, 20 April 2017

Kuartal I-2017, Astra Raup Laba Bersih Rp 902 Miliar dari Alat Berat dan Tambang

Jakarta, OG Indonesia -- Dalam Laporan Keuangan Kuartal I-2017, laba bersih Grup Astra dari segmen alat berat dan pertambangan meningkat sebesar 104% menjadi Rp 902 miliar. PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 105% menjadi Rp 1,5 triliun, disebabkan oleh peningkatan volume bisnis pada mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan kegiatan pertambangan, yang seluruhnya mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batu bara.

“Sebagian besar bisnis Grup Astra memiliki kinerja yang baik pada kuartal pertama tahun 2017. Ke depan, Grup Astra berharap mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang  berkelanjutan, didukung oleh  harga komoditas yang lebih tinggi,” kata Prijono Sugiarto Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk. 

Dipaparkan olehnya, pada  segmen  usaha  mesin  konstruksi,  volume  penjualan  alat berat Komatsu  mengalami peningkatan  sebesar  70%  menjadi  847  unit, di mana pendapatan  dari  suku  cadang  dan  jasa perbaikan juga meningkat. 

PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan  batu  bara, juga mengalami  peningkatan  produksi  batu  bara  sebesar  2% menjadi  25  juta  ton,  sementara  peningkatan  kontrak  pengupasan  lapisan  tanah (overburden removal)  meningkat  sebesar  3%  menjadi  171  juta  bank  cubic  metres. "Anak  perusahaan  UT dalam bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 9% menjadi 1,9 juta ton," ucapnya.

Sementara itu PT Acset  Indonusa  Tbk,  perusahaan  kontraktor  umum  yang  50,1% sahamnya  dimiliki  UT, melaporkan  peningkatan  laba  bersih  sebesar  63%  menjadi Rp 31  miliar  dan  mencatat penambahan  kontrak  baru  senilai  Rp 6,9  triliun  sepanjang kuartal  pertama  tahun  2017, dibandingkan Rp 2,4  triliun yang berhasil diterima pada kuartal pertama tahun 2016.  

Dilanjutkan Prijono, pada  bulan  Maret  2017,  Bhumi  Jati  Power,  yang  25%  sahamnya dimiliki  oleh  UT  dan  akan mengembangkan  serta  mengoperasikan  pembangkit  listrik tenaga  uap  berkapasitas  2x1.000 MW  di  Jawa  tengah,  telah  menyelesaikan perjanjian  pendanaan  proyek  dengan  para  kreditur. 

"Proyek  BOT  (build,  operate  and  transfer)  ini  diperkirakan  menelan  biaya  sekitar  USD 4,2  miliar dan direncanakan akan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2021," terangnya. Bhumi Jati Power merupakan  perusahaan  patungan  bersama  antara anak  usaha  UT,  Sumitomo  Corporation  dan Kansai Electric Power Co Inc.  

Selain itu, pada bulan  Maret  2017,  UT melalui  anak  usahanya  PT  Tuah Turangga Agung, juga berhasil menyelesaikan akuisisi  80,1%  kepemilikan  PT  Suprabari  Mapanindo Mineral,  sebuah  perusahaan  coking coal (batu bara berkalori tinggi yang biasa digunakan sebagai campuran dalam peleburan baja) yang berlokasi di Kalimantan Tengah. RH