Rabu, 31 Mei 2017

HDS Bidik Proyek Pengeboran Offshore di Blok Mahakam

Said Abdurrahman Alatas dengan
maket jack up rig Harmoni Victory 
yang dimiliki HDS.
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Kendati harga minyak dunia belum naik kembali dan ketika banyak perusahaan migas yang lakukan siasat efisiensi, namun PT Harmoni Drilling Services (HDS) tetap optimistis dengan bisnis penyewaan rignya yang fokus untuk kegiatan offshore.

HDS didirikan pada tahun 2009, di mana berselang setahun kemudian di tahun 2010 sudah mendapatkan proyek pengeboran perdananya lewat jack up rig bernama Naga 2 di Blok Pangkah yang dikelola oleh HESS pada saat itu. "Cuma pada saat itu kita masih sebagai agen, pemilik rignya dari Malaysia yang bernama UMW," kisah Said Abdurrahman Alatas, Owner dan President Director PT Harmoni Drilling Services kepada OG Indonesia di kantornya, Selasa (30/05).

Beberapa kegiatan penyewaan rig HDS sebagai agen dari berbagai perusahaan dunia pun berlanjut. Mulai dari menjadi agen rig semisubmersible Essar Oilfield Services Ltd untuk kegiatan pengeboran Conoco Phillips di West Natuna, sampai drill ship Norshore Atlantic dari Norshore SA asal Norwegia untuk proyek Blue Sky di Langsa, Aceh. Total sudah ada 6 rig dan drill ship yang sudah dipegang HDS sebagai agen di Indonesia.

Namun sudah sekitar 1,5 tahun terakhir ini, diungkapkan Said, perusahaannya sudah tidak mendapatkan pekerjaan sebagai imbas dari jatuhnya harga minyak dunia. Kendati demikian, HDS pada saat ini justru telah mampu memiliki jack up rig sendiri sejak awal tahun 2017 ini. "Nama jack up rig-nya Harmoni Victory. Jadi cuma ada dua perusahaan Indonesia yang punya rig (offshore) sendiri, yaitu Apexindo dan HDS," tuturnya.

Diceritakan Said, perusahaannya mendapat pinjaman dari sebuah perusahaan investasi asal Amerika Serikat untuk membeli Harmoni Victory. "Harganya itu sekitar USD 150 juta. Ini rig baru, buatnya di China tapi dia punya desain dari Houston, Amerika Serikat," jelas Said yang pernah bekerja di Exxon Mobil di Qatar ini.

Jack up rig Harmoni Victory cocok dipakai untuk kegiatan pengeboran offshore dengan kedalaman laut sekitar 400 kaki. Dipaparkan Said, rig tersebut memiliki keunggulan deck space yang luas supaya kegiatan seperti penimbunan pipa atau peralatan lainnya bisa dilakukan di atas dek tanpa perlu mondar-mandir mengambilnya ke darat. "Luasnya lebih dari 1.000 meter persegi, itu bentuknya segitiga," imbuhnya.

Dengan rig barunya tersebut, HDS sudah mencoba untuk ikut tender proyek Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang awal tahun 2018 nanti akan mengelola Blok Mahakam. Sementara di luar negeri HDS juga ikut tender Brunei Shell Petroleum di Brunei Darussalam, di mana HDS merupakan satu-satunya perusahaan asal Indonesia yang ikut tender di sana. 

"Potensi menang kita di sana (Blok Mahakam) ada, pertama karena kita perusahaan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri), kedua karena rig kita sudah berbendera Indonesia, dan ketiga karena mayoritas kita sudah memakai tenaga kerja lokal," bebernya. "Sekarang masih dalam tahap kualifikasi yang pengumumannya mungkin di bulan Juni. Jika lulus kualifikasi baru kita masuk bid submission, dan pengumuman pemenang tendernya sekitar September-Oktober 2017 sebelum peralihan Blok Mahakam," sambung Said.

Pemain Lokal di Rig Offshore

Dengan kualifikasi rignya yang cocok untuk kedalaman sampai 400 kaki, HDS menyasar Harmoni Victory untuk bekerja di laut yang tak terlalu dalam seperti di Kalimantan, Laut Jawa, dan Selat Malaka. "Kita bisa ambil kesempatan di situ. Potensinya masih sangat luas karena untuk offshore itu masih 80 persen belum terjamah," ujarnya. 

Untuk soal harga sewa rig, diterangkan Said, harga sewa Harmoni Victory tidak lebih dari USD 70.000 per hari. "Kita tidak mau juga harga terlalu tinggi, diseimbangkan dengan harga minyak supaya biaya operasional dari pihak klien ekonomis," lanjut Said. Namun kondisi tersebut justru dimanfaatkan oleh perusahaan rig asal Tiongkok yang menerapkan strategi dumping untuk harga sewa rignya, sehingga membuat persaingan yang tak sehat di Indonesia. "Itu harganya di bawah rata-rata lah," ungkapnya.

Masuknya HDS ke usaha sewa rig offshore, dikatakan Said, menjadi bukti kemampuan perusahaan lokal untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang selama ini menguasai usaha rig offshore di Indonesia. "Sekarang ini di Indonesia untuk perusahaan pengeboran di laut itu ada sepuluh, di mana delapan perusahaan asing dan hanya dua dari Indonesia yaitu Apexindo dan HDS," jelasnya.

Dengan kondisi hulu migas yang sedang kurang bergairah seperti saat ini, Said berharap kegiatan eksplorasi bisa kembali digiatkan, caranya dengan memberikan data seismik yang riil dari lapangan-lapangan migas yang ada di wilayah Indonesia. "Kalau data seismik ada dan mengatakan viable (dapat berjalan), maka otomatis investor akan berminat. Itu Pemerintah harus siapkan data seismiknya terutama yang di laut," tegas Said.

Ia pun yakin jika harga minyak dunia kembali pada kisaran USD50-USD60 per barel maka perhitungan ekonomis perusahaan-perusahaan migas bisa masuk dan industri hulu migas bisa menggeliat kembali. "Industri ini sangat berisiko tinggi, namun kita masih tetap punya harapan," pungkas Said. RH