Rabu, 17 Mei 2017

IPA Convex 2017 Dibuka, Industri Migas Harus Lebih Kompetitif dan Atraktif

Jakarta, OG Indonesia -- Konvensi dan Pameran IPA (IPA Convex) ke-41 tahun 2017 secara resmi dibuka hari ini oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan, didampingi oleh Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, Dirjen Migas, I Gusti Nyoman Wiratmaja, Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi dan Presiden IPA Christina Verchere.

Konvensi dan pameran yang tahun ini mengambil tema “Accelerating Reform to Re-Attract Investment to Meet the Economic Growth Target” menggarisbawahi kebutuhan Indonesia akan investasi yang sangat besar untuk melakukan kegiatan eksplorasi untuk mendapatkan sumber migas baru yang kebanyakan terletak di laut dalam di sebelah timur Indonesia. Upaya lain yang dilakukan adalah penerapan Enhanced Oil recovery (EOR) untuk dapat memaksimalkan nilai keekonomian hidrokarbon yang saat ini diproduksi, di tengah kondisi ekonomi global serta regulasi yang penuh tantangan.

Dalam pidato pembukaannya Christina Verchere menekankan kontribusi signifikan dari industri hulu migas di samping memproduksi energi dan menghasilkan pendapatan bagi negara. “Industri migas dikombinasikan dengan berbagai sektor pendukungnya memiliki efek berganda yang sangat besar bagi ekonomi Indonesia. Karena itu membuat Indonesia menjadi kompetitif dan atraktif bagi investasi harus menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu Menteri ESDM berbicara mengenai berkurangnya dana investasi global dikarenakan jatuhnya harga minyak dalam 3 tahun terakhir. Perusahaan minyak didorong untuk menjadi lebih kompetitif dan efisien untuk menghadapi situasi bisnis tersebut. 

“Tantangan dari industri ini bukan saja biaya operasional. Kita masih harus menghadapi tantangan rendahnya harga minyak global. Industri ini merupakan pendorong utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dan karenanya Pemerintah terus berusaha untuk melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kemudahan proses bisnis di Indonesia. Deregulasi dengan cara mengurangi jumlah perijinan serta reformasi birokrasi dilakukan demi untuk mendorong investasi di Indonesia,“ ujar Jonan.

Meskipun kontribusi sektor migas ke kas negara menurun namun tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi industri merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadi katalisator perkembangan daerah melalui efek bergandanya.

Sayangnya dampak ekonomi tersebut terhalang oleh beberapa tantangan yang dihadapi oleh industri hulu migas Indonesia, antara lain ketidakpastian hukum, aturan fiskal yang tidak kompetitif, reformasi regulasi (revisi dari Peraturan Pemerintah No.79/2010 dan keekonomian skema gross split), dan biaya investasi yang diakibatkan oleh turunnya produksi minyak, rasio penggantian sumber migas yang rendah, investasi yang lambat dalam infrastruktur gas serta rendahnya minat dalam blok baru yang ditawarkan pemerintah Indonesia.

“Investasi untuk melakukan kegiatan eksplorasi sumber migas baru sangat penting dilakukan demi mencapai ketahanan energi Indonesia di masa mendatang,“ ujar Christina. “Hal ini sangat mendesak untuk dilakukan karena Indonesia harus bersaing secara global untuk mendapatkan investasi. Bila Indonesia ingin menarik perhatian perusahaan-perusahaan migas yang kompetitif maka Indonesia harus dapat menawarkan imbal balik yang juga kompetitif,” sambungnya.

IPA sendiri akan bekerjasama dengan pemerintah dan akan terus meningkatkan efisiensi industri serta menetapkan prioritas yang dibutuhkan untuk reformasi demi untuk memberikan nilai dan hasil terbaik bagi rakyat Indonesia. "Bersama pemerintah, kami akan terus bekerja untuk menarik kembali investasi ke Indonesia demi mencapai target pertumbuhan ekonomi,“ jelas Christina lebih lanjut.

Kisah sukses yang menarik kembali investasi di sektor migas adalah negara Mexico, setelah pemerintah mendengar masukan dari para investor. Implementasi dapat dilakukan karena didampingi kebijakan politik yang kuat, hal itu disampaikan dalam special session oleh Nicole David Palau, Director General of Investor Relations and Promotion, Secretaria de Energia de Mexico. 

Konvensi dan Pameran IPA yang merupakan ajang konvensi dan pemeran terbesar di wilayah ini, menjadi ajang berkumpul bagi seluruh pemangku kepentingan industri migas di Indonesia, termasuk di antaranya pembuat kebijakan, pemerintah terkait, investor serta para pemain di sektor penunjang industri migas Indonesia, untuk menarik lebih banyak lagi investasi ke Indonesia. RH