Rabu, 24 Mei 2017

Mahasiswi UI Manfaatkan Zebra Cross untuk Hasilkan Listrik

Astania Putri (kiri) dan Nadhira Gilang
Ratnasari (kanan).
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Astania Putri dan Nadhira Gilang Ratnasari sumringah. Keduanya yang merupakan mahasiswi dari jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia angkatan 2014 dan tergabung dalam tim Lemon Chiffon baru saja terpilih menjadi Juara 1 dalam seleksi final edisi ketujuh Go Green in the City (GGITC) 2017.

GGITC sendiri merupakan kompetisi global tahunan yang diadakan oleh Schneider Electric yang menantang mahasiswa untuk menciptakan berbagai inovasi yang dapat membantu masyarakat perkotaan di berbagai belahan dunia agar mengonsumsi energi dengan lebih cerdas dan efisien.

Seperti diketahui, konsumsi listrik di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tahun 2015, konsumsi listrik yang digunakan untuk penerangan jalan di Jakarta mencapai 466,900 MWh dan pada tahun 2016 pemerintah menghabiskan Rp 822 miliar untuk konsumsi listrik per tahun. 

Berangkat dari fakta ini, tim Lemon Chiffon menghadirkan inovasi lewat konsep “Step – Electricity On Your Footstep”. "Step itu merupakan suatu alat yang dapat mengkonversi perpindahan kecil menjadi perpindahan besar yang bisa menghasilkan energi listrik," ucap Astania Putri kepada OG Indonesia dalam acara pengumuman pemenang GGITC 2017 di Jakarta, Rabu (24/05).

Diterangkan Astania, timnya terpikir akan konsep Step karena pergerakan manusia yang sibuk seperti di zebra cross dan jalan raya yang sebenarnya sangat potensial energi dari pergerakannya untuk dimanfaatkan. Ia mengatakan, intinya ide Step akan memanfaatkan gerakan terbuang seperti langkah kaki yang ditransformasi menjadi energi listrik dengan menggunakan prinsip hidrolik. "Jadi kita mengubah energi dari saat kita berjalan menjadi energi listrik," ujarnya.

Teknologi dalam Step menggunakan lempengan per yang ditempatkan pada fasilitas penyeberangan jalan seperti zebra cross. Lempengan per ini terkoneksi dengan brake fluid filled pipe di mana setiap tekanan menghasikan pergerakan cairan dalam pipa. 

Pergerakan tersebut lalu menggerakan kopling yang terhubung dengan generator dan menghasilkan energi yang dapat digunakan sebagai sumber listrik. "Teknologi ini sangat simpel, mudah digunakan dan sangat murah sehingga sangat visible untuk diterapkan," tutur Astania.

Menurut penelitian tim Lemon Chiffon, ketika satu orang sekali menginjakkan kaki pada alat Step dapat menghasilkan listrik sebesar 140 watt. "Jika ada satu orang menggunakan alat kami selama 24 jam, setelah kami prediksi bisa menghasilkan 2.640 watt," tutur Astania. 

Ditambahkan olehnya, dengan alat Step ini mampu menghasilkan listrik yang dapat menyalakan lampu lalu lintas di jalan sekitar yang dipasangi alat tersebut. "Kalau kita kalkulasikan, dalam waktu setahun alat ini bisa menghemat listrik pemerintah kurang lebih sekitar Rp 4 miliar selama satu tahun," ungkapnya.

Dilanjutkan oleh Nadhira Gilang Ratnasari, ke depannya konsep Step ini masih perlu dilakukan perbaikan agar benar-benar aplikatif. "Masih banyak ruang untuk perkembangan karena masih ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti dari keamanan dan bagaimana untuk meningkatkan efisiensinya," ucap Nadhira.

Dalam seleksi final GGITC 2017 di Indonesia, tim Lemon Chiffon dari Universitas Indonesia, berhasil mengalahkan 4 finalis lainnya yang berasal dari berbagai kampus dan menyabet hadiah sebesar Rp 30 juta dari Schneider Electric Indonesia dan juga mendapat kesempatan untuk wawancara kerja di Schneider Electric Indonesia. 

Selanjutnya, tim Lemon Chiffon akan berkompetisi dengan negara Asia Timur lainnya di Go Green in the City tingkat East Asia Regional pada tanggal 11 Juni 2017 mendatang. RH