Kamis, 01 Juni 2017

Garap Megaproyek PLTGU Mesir, Pabrik Siemens Cilegon Habiskan 1 Juta Jam Kerja

Pekerja sedang menyelesaikan komponen
kelistrikan di Pabrik PT Siemens
Indonesia Cilegon.
Foto: Siemens
Kairo, OG Indonesia -- Pada pertengahan tahun 2015 lalu, Siemens memenangkan kontrak untuk mengembangkan pembangkit listrik di Mesir untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) dengan kapasitas total 14,4 GW yang berlokasi di Beni Suef, New Capital, dan Burullus dengan masing-masing berkapasitas 4,8 GW.

Kemudian ditambah 12 unit wind farm dengan 600 wind turbine berkapasitas 2 GW di kawasan Teluk Suez dan daerah barat Nil. Siemens menggandeng perusahaan konstruksi lokal Elsewedy Electric dan Orascom Construction untuk mengerjakan proyek ini.

Sebagai salah satu pusat manufaktur lokal, pabrik Siemens Indonesia yang berlokasi di Cilegon, Banten pun ditunjuk untuk menjadi salah satu penyuplai berbagai komponen untuk proyek ini. Siemens Indonesia menyuplai 12 selubung luar turbin bertekanan rendah (low pressure outer casing), 7 cincin bilah turbin (blade ring), 16 modul kondensor, dan 4 hot box

Untuk menggarap proyek kelistrikan di Mesir, pabrik ini mendedikasikan 1 juta jam kerja dengan total tenaga kerja yang dikerahkan sejumlah 700 orang. Siemens Indonesia juga menggunakan berbagai komponen dalam negeri, salah satunya baja yang dipesan langsung dari pemasok lokal. Uniknya lagi, pengerjaan berbagai komponen ini dilakukan oleh tenaga kerja lokal, sehingga produk yang disuplai ke Mesir merupakan produk asli buatan Indonesia.

Dalam rangka kunjungan wartawan dari berbagai belahan dunia ke Mesir yang dihelat pada 21-24 Mei lalu, CEO Siemens Mesir, Emad Ghaly menjelaskan bahwa pada tahun 2012 lalu Mesir mulai mengalami pemadaman listrik secara luas yang disebabkan karena adanya defisit  pasokan listrik sejumlah 1.000 MW. "Bahkan, defisit listrik itu terus mengalami kenaikan hingga tahun 2014, puncaknya negeri pyramid ini sempat mengalami blackout atau listrik mati secara total," jelas Emad Ghaly.

Atas kejadian tersebut, pemerintah setempat kemudian berinisiatif untuk menambah kapasitas kelistrikan dengan membangun pembangkit sejumlah 14,4 GW untuk PLTGU, kemudian ditambah 12 unit wind farm dengan 600 wind turbine berkapasitas 2 GW di kawasan Teluk Suez dan daerah barat Nil. Selain itu Siemens juga akan membangun fasilitas manufaktur rotor blade di wilayah Ain Soukhna yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat pelatihan bagi tenaga kerja. 

Kapasitas listrik di Mesir saat ini berjumlah sekitar 35.000 MW. Proyek 3 PLTGU yang dikembangkan Siemens dengan berkapasitas 14.400 MW ini akan mendongrak kapasitas kelistrikan di Mesir sebesar 45% pada tahun 2018 mendatang. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan gas dari pembangkit, Mesir membutuhkan LNG (Liquefied Natural Gas) sekitar 600 juta meter kubik perhari untuk memenuhi kebutuhan gas ketiga pembangkit tersebut. 

Pengerjaan proyek PLTGU yang dimulai sejak 2015 lalu tersebut, hingga saat ini telah rampung lebih dari 70 persen. Bahkan, salah satu pembangkitnya yang berlokasi di Beni Suef sudah mulai beroperasi kemudian menyusul dirampungkannya dua pembangkit lain. Total dana yang digelontorkan untuk proyek ini sekitar 8 miliar euro.

Emad Ghaly menuturkan proyek PLTGU Beni Suef dapat diselesaikan hanya dalam waktu 18 bulan sejak penandatanganan kontrak. "18 bulan bukan dari financial close, tetapi sejak penandatanganan kontrak, jadi secara total kita targetkan pada tahun 2018 nanti semua pembangkit dengan total kapasitas 14,4 GW sudah dapat beroperasi," ujarnya.

Pabrik Siemens Indonesia yang berlokasi di Cilegon patut berbangga sebab berbagai komponen buatan Indonesia bukan hanya digunakan di pembangkit listrik dalam negeri, tetapi keikutsertaan dalam proyek ini turut menambah satu lagi portofolio eksistensi pabrik ini di kancah internasional. 

Pengiriman komponen buatan Indonesia ke Mesir dilakukan pada Februari 2017 lalu, Kondenser buatan anak bangsa ini dipasang di PLTGU Beni Suef dan Burullus, sedangkan hot box dipasang di PLTGU yang berlokasi di New Capital. Keikutsertaan dalam mega proyek pembangkit listrik di Mesir menjadi ajang pembuktian bahwa hasil produksi dalam negeri mampu bersaing dengan produk buatan luar negeri. RH