Kamis, 22 Juni 2017

Kargo LNG Pertama Lapangan Jangkrik Dikirim

Bontang, OG Indonesia -- Kargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pertama dari Lapangan Jangkrik, Wilayah Kerja (WK) Muara Bakau yang dioperasikan Eni berhasil dikirimkan ke pasar domestik dari kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur pada Kamis (22/06).

Menggunakan Kapal Triputra, kargo LNG sebesar 22.500 m3 dikirimkan ke terminal regasifikasi di Tanjung Benoa, Bali, sebagai bagian dari kontrak jangka panjang yang telah ditandatangani dengan PT Pertamina (Persero). 

Hadir pada pengiriman pertama kargo tersebut Wakil Kepala SKK Migas Sukandar, Managing Director Eni Indonesia Fabrizio Trilli, Presiden Direktur dan CEO Badak LNG Salis S. Aprilian, dan Walikota Bontang Neni Moerniaeni.

Menurut Sukandar, sebagian besar pasokan gas WK Muara Bakau ditujukan dan diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan pabrik pupuk dan kebutuhan LNG dalam Negeri. “Pemenuhan pasokan tersebut jadi bukti nyata industri hulu migas untuk mendukung program pemerintah dalam hal ketahanan pangan dan energi di Indonesia,” katanya.

Dia menambahkan, pengiriman kargo pertama ini juga sebagai bagian pemenuhan kebutuhan kelistrikan di Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebijakan dari Pemerintah Indonesia untuk terus menambah ketersediaan pasokan kelistrikan bagi masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Fabrizio Trilli menambahkan, lifting pertama kargo LNG ini merupakan salah satu pencapaian kunci bagi Proyek Pengembangan Lapangan Jangkrik yang menjadi salah satu proyek gas laut dalam pertama di Indonesia yang dikembangkan dengan skema percepatan. 

"Ini mengkonfirmasi komitmen Eni dalam mensuplai gas untuk pengembangan pasar domestik Indonesia. Saya sangat bangga melihat hubungan yang kuat dan produktif dengan pemerintah Republik Indonesia, Pertamina dan mitra kerja Joint Venture kami di Proyek Jangkrik,” ucapnya.

Sementara Salis S. Aprilian menjelaskan, PT Badak NGL menerima pasokan gas dari lapangan Jangkrik sejak 29 Mei 2017. Hingga 22 Juni 2017, gas lapangan Jangkrik yang telah diolah menjadi LNG sebesar 2.400 juta standar kaki kubik. “Dengan adanya pasokan gas baru ini, Badak LNG akan semakin berkelanjutan sebagai kilang pengolahan LNG,” terangnya.

Sebagai informasi, Proyek Pengembangan Lapangan Jangkrik ini terdiri dari lapangan gas Jangkrik dan Jangkrik North East yang berlokasi di wilayah kerja Muara Bakau, di laut dalam Selat Makassar. Produksi Jangkrik dari sepuluh sumur bawah laut terhubung dengan Floating Production Unit (FPU) Jangkrik. 

Saat ini, produksinya sekitar 200 juta standar kubik kaki per hari, yang secara bertahap meningkat mencapai produksi sebesar 450 juta standar kubik kaki per hari atau setara dengan 83.000 barel setara minyak per hari.

Gas tersebut, setelah diproses di FPU, mengalir melalui pipa gas khusus sepanjang 79 km menuju Fasilitas Penerima Darat (Onshore Receiving Facility), kemudian menuju ke Sistem Transportasi Gas Kalimantan Timur (East Kalimantan Transportation System) sebelum akhirnya menuju ke kilang LNG Bontang. 

Potensi Wilayah Timur

Dilanjutkan oleh Sukandar, kargo pertama yang dikirim pada hari ini menjadi bukti pengembangan migas di Kalimantan timur masih menarik untuk dikembangkan. Pengembangan Lapangan Jangkrik yang terletak di lepas pantai dan berada di laut dalam, memang memiliki tantangan tersendiri baik dari aspek teknologi, operasional, maupun finansial. 

Pengiriman kargo pertama ini pun diharapkan akan memberikan kepastian pengembalian modal serta keuntungan finansial bagi kontraktor. "Harapannya, ke depan, kontraktor dapat melaksanakan operasional dengan baik sekaligus juga mencoba mencari cadangan-cadangan baru di WK lain di Indonesia," tuturnya.

Seperti diketahui, cadangan migas di wilayah timur Indonesia masih memiliki prospek cadangan yang siap untuk dieksplorasi. Beberapa proyek lapangan gas di wilayah ini akan dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan sesuai rencana pengembangan lapangan (Plan Of Development/POD). 

SKK Migas sendiri, ditegaskan Sukandar, akan mengawal dan memberikan dukungan penuh agar proyek-proyek tersebut berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. “Kerja sama antar pemangku kepentingan pusat maupun pemerintah daerah sangat diharapkan,” pungkasnya. RH