Selasa, 25 Juli 2017

Bidik Produksi 2.045 MBOE, Pertamina Bahas Teknologi Hulu

Dirut Pertamina Elia Massa Manik
membuka FSTH ke 4 di Makassar.
Foto: Hrp
Makassar, OG Indonesia -- Untuk meningkatkan cadangan dan produksi Migas, pekerja Migas di lingkungan Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) menyelenggarakan Forum Sharing Teknologi Hulu (FSTH) ke-4. Forum ilmiah ini untuk menghasilkan temuan baru di bidang teknologi hulu yang bisa dimplementasikan secara praktis di blok-blok Migas Pertamina sekaligus  sebagai sarana sosialisasi kebijakan dan rencana implementasi aspirasi hulu Pertamina tahun 2030, di antaranya meningkatkan Produksi Migas menuju 2.045 MBOE  per hari dan Geothermal Road to 2.300 MW.

Direktur utama PT Pertamina (Persero) Elia  Massa Manik yang membuka FSTH 4 di Makassar, Selasa (25/07), berharap FSTH dapat mendukung peningkatan produksi dan cadangan migas, dengan menciptakan sinergi Direktorat Hulu, Anak Perusahaan Hulu (APH) serta Direktorat lainnya untuk mewujudkan visi dan misi Pertamina menjadi perusahaan energi nasional berkelas dunia. 

Menurutnya, angka cadangan P1 sampai tahun 2016 sebesar 2.7 BBOE. Pada awal tahun 2017 kegiatan eksplorasi Pertamina Hulu berhasil menemukan cadangan baru dari sumur Parang-1 (PHE Nunukan) sebesar 126 MMBOE (2C), dan Haur Gheulis dari Sumur Haur Gede-1 dengan estimasi cadangan  14 MMBO (2C). 


“Forum semacam ini akan mempercepat peningkatan kemampuan dalam penerapan teknologi yang efektif dan efisien, baik dalam bisnis Migas maupun energi alternatif lainnya,” ujar Massa Manik. 


Menurutnya, dengan membangun sinergi dan kolaborasi  antara anak usaha di Direktorat Hulu, yang terdiri dari 8 APH, dan didukung oleh Direktorat Pemasaran, Direktorat Pengolahan, HSSE, Universitas Pertamina serta perusahaan–perusahaan kelas dunia dalam bidang teknologi yang menjadikan FSTH sebagai muara dari seluruh aktivitas kegiatan eksplorasi dan produksi migas, energi baru dan terbarukan serta geothermal.


Di samping itu, Direktur Hulu Syamsu Alam menjelaskan, selain eksplorasi yang terbukti menghasilkan hidrokarbon pada  2017 masih akan dibor sebanyak 7 sumur oleh PHE yaitu KKX-1 (ONWJ), N-7 (WMO), Kumis-2 (Siak), Kotalama-3 (Siak), Karunia-1 (Abar), SE Sembakung-1 (Simenggaris), dan NEB Ext-1 (Jabung) dengan total perolehan 59 MMBOE (2C) dan PEP masih akan bor 6 sumur eksplorasi dan diperkirakan 4 sumur selesai dengan estimasi 80 MMBOE (2C). Beberapa kegiatan eksplorasi telah ditindaklanjuti menjadi POD seperti di Badik dan West Badik (PHE Nunukan), PHE Randugunting juga sudah beralih dari Eksplorasi ke Development.


Realisasi Produksi Migas dari 2014 sampai dengan 2016 meningkat, di mana pada tahun 2014 produksi migas sebesar 549 KBOEPD meningkat 11% menjadi 607 KBOEPD. Di tahun 2016, produksi kembali meningkat 7% menjadi 650 KBOEPD. Sementara realisasi produksi migas pada semester pertama 2017 sebesar 692 KBOEPD  naik lebih 8% bila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. "Tahun ini produksi melebihi target RKAP sebesar 685 KBOEPD. Ini menunjukkan, Pertamina berkomitmen memenuhi target produksi migas nasional,” kata Syamsu Alam.


Sedangkan untuk realisasi kapasitas terpasang Geothermal, lanjut Syamsu Alam dari 2014 sampai dengan 2016  meningkat 15%, di mana pada 2014 sebesar 402 MW menjadi 437 MW pada  2015 dan di  2016, meningkat menjadi 532 MW. Realisasi kapasitas terpasang Geothermal pada 2017 sebesar 587 MW masih lebih rendah dari RKAP 2017 yang sebesar 617 MW.


Forum Sharing Teknologi Hulu ini sangat relevan dilaksanakan di tengah harga minyak yang belum kembali normal, banyak lapangan-lapangan di Indonesia cenderung sudah matang, membutuhkan teknologi yang tepat guna yang bisa dioperasionalkan untuk optimalisasi produksi Migas dan Geothermal. 


FSTH yang mengambil tema: ‘Let’s Make Upstream Rising Up to Secure National Energy : Broader, Further and Deeper’ dimaksudkan untuk mendukung peningkatan poduksi dan cadangan Migas. Forum yang diselenggarakan Upstream Technology Center Pertamina sejak 2010 ini, dilaksanakan secara berkala setiap dua tahun sekali, pada 2017 merupakan pelaksanaan FSHT yang ke-4 yang dilaksanakan di Makassar, 25-27 Juli 2017.


Dari forum semacam ini telah dihasilkan beberapa temuan teknologi, antara lain UTC yang kini sedang dipatenkan sebagai teknologi Pertabocsy, suatu teknologi untuk mengidentifikasi keberadaan Hidrokarbon secara langsung dari Thermal Anomaly.  Selain itu, ada beberapa temuan di bidang passive seismic, Drilling Mobile Apps yang berupa aplikasi engineering bidang pemboran dalam format aplikasi mobile yang sudah dipakai di seluruh dunia, Dream well berupa drilling data base, sentralisasi data (PUDC) yang sudah memperoleh ISO 27001, pendirian Lab EOR, menerbitkan Pedoman Geohazard, Pedoman Keteknikan Reservoir dan Produksi serta Pedoman Operasi Drilling. RH