Jumat, 21 Juli 2017

Blok A di Aceh Mulai Produksi Gas Semester I 2018

Foto: goaceh.co
Banda Aceh, OG Indonesia -- Kebutuhan energi nasional terus meningkat, sementara potensi sumber daya alam masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Salah satunya adalah gas bumi yang ada di Aceh.

Potensi gas di Aceh mampu mendukung Program Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 MW. Tidak hanya itu, potensi ini juga dapat memenuhi kebutuhan gas Aceh, Sumatera Bagian Utara dan daerah sekitarnya.

Demikian disampaikan Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk. (MedcoEnergi), Hilmi Panigoro, dalam seminar “Potensi Gas Blok A untuk Pembangkit Listrik di Aceh dan Sumbagut” yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala dan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) di Kampus Unsyiah, Banda Aceh, Jum’at (21/07).

Hilmi menjelaskan, MedcoEnergi, melalui anak usahanya PT Medco E&P Malaka, sedang menggarap potensi gas di Blok A, Aceh Timur, untuk memenuhi kebutuhan gas pada industri di Aceh dan Sumatera Utara. Ada tiga lapangan gas yang sedang dikembangkan yakni lapangan Alur Siwah, Alur Rambong dan Julu Rayeu.

“Ketiga lapangan gas ini memiliki kapasitas produksi 63 BBTUD untuk industri domestik dan listrik. Proyek pengembangan ini diharapkan bisa mulai berproduksi pada semester pertama 2018,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Hilmi juga menegaskan bahwa proyek tersebut akan memberikan kontribusi pendapatan kepada Aceh, negara serta membuka lapangan kerja dan kesempatan berusaha untuk pengusaha baik lokal maupun nasional.

Apalagi, selain ketiga lapangan tersebut, masih terdapat potensi gas besar lainnya di lapangan Kuala Langsa dan Matang, dengan potensi yang belum digarap sekitar 2-3 TCF.

Pengembangan kedua lapangan ini diharapkan dapat menghasilkan gas untuk kebutuhan pembangkit listrik yang mampu menghasilkan listrik sekitar 1.000 - 1.200 MW untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 15 tahun.  

“Saat ini, kami sedang melakukan pembicaraan dengan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat untuk dapat segera mempercepat pengembangan Lapangan Matang dan Kuala Langsa,” papar Hilmi.

Menurutnya, pengembangan  kedua  lapangan ini  akan memberikan  potensi  pendapatan yang  cukup  besar  bagi Pemerintah Pusat dan Daerah. Selain itu, pengembangan lanjutan Blok A  ini  juga akan  membawa manfaat lain  bagi  masyarakat  Aceh, seperti terciptanya lapangan kerja, penyerapan tenaga kerja lokal, menarik investor, dan mempercepat pembangunan di Aceh.

Namun, tegas Hilmi, pengembangan  lapangan  gas  ini  memiliki  beberapa  tantangan karena  memiliki Kompleksitas Reservoir i.e HPHT (bertekanan dan bertemperatur tinggi) dan kandungan CO2 tinggi untuk  Lapangan  Kuala  Langsa  (dapat  mencapai  81%). Lapangan  dengan  kondisi  seperti  ini membutuhkan teknologi tinggi dan tepat guna.

Tidak hanya itu, paparnya, biaya pengembangan lapangan dengan kondisi ini juga  cukup mahal  sehingga  dibutuhkan  insentif-insentif  untuk  memastikan  tingkat  pengembalian yang  wajar  dan dapat  dimonetisasi.

“Pengembangan  lapangan  gas  ini  diharapkan  dapat menjadi  proyek  percontohan bagi  pengembangan lapangan  gas  marjinal  lainnya  di Aceh  dan  wilayah Indonesia lainnya,” ujar Hilmi.

Oleh karena itu, dia minta dukungan semua pemangku kepentingan: Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh serta masyarakat sangat diperlukan agar tercipta iklim investasi yang kondusif dan aman. Situasi ini dibutuhkan oleh Medco E&P Malaka dan perusahaan migas lain yang beroperasi di Aceh sehingga dapat merangsang investasi di Aceh dan menggerakkan perekonomian daerah. RH