Sabtu, 22 Juli 2017

Exxon Kembalikan Hak Kelola Blok East Natuna Karena Tak Ekonomis


Jakarta, OG Indonesia -- ExxonMobil belum lama ini mengirimkan surat kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan yang berisi, antara lain tidak lagi meneruskan pengelolaan Blok East Natuna karena tidak ekonomis dengan term yang ada.

Menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, pengembalian hak kelola Blok East Natuna kepada Pemerintah merupakan lompatan bagi Indonesia untuk segera mengembangkan blok tersebut, sekaligus penegasan bahwa ExxonMobil tidak ingin menghambat Indonesia mengembangkan Blok East Natuna.

"Exxon merasa tidak ingin juga menghambat perkembangan ini, maka dengan surat yang baru Pak Jonan dan saya terima, bahwa mereka katakan silahkan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan (Blok East Natuna)," ujar Wamen ESDM Arcandra Tahar, Jumat (21/07).

Arcandra mengatakan, perusahaan asal Amerika Serikat tersebut mengembalikan Blok East Natuna karena melihat secara keekonomian tidak masuk dalam portofolio di mana kandungan gas CO2 blok tersebut sekitar 70%.

Sebelum menyatakan tidak ekonomis, papar Arcandra, ExxonMobil telah menjajaki kerja sama untuk mengembangkan Blok East Natuna bersama PT Pertamina (Persero) dan PTT Exploration and Production. Besaran hak partisipasi tersebut adalah Exxonmobil mendapat 42,5%, Pertamina 42,5% dan PTT Exploration and Production 15%.

"Saat itu, ExxonMobil sedang menjajaki kerja sama untuk men-develop lapangan East Natuna ini. Di mana waktu itu, kira-kira Pertamina akan berpartisipasi 42,5%, Exxon 42,5%, PTT EP 15%. Pemerintah hanya dapat pajak saja sekitar 40% split-nya," katanya.

Lebih lanjut, kata Arcandra, lantaran Pemerintah ingin segera mengembangkan blok tersebut, ExxonMobil kemudian melakukan evaluasi dengan hasil mengembalikan blok tersebut ke Pemerintah. Pengembalian Blok East Natuna juga bukan lantaran skema bagi hasil gross split. 

"Mereka (ExxonMobil) secara ikhlas mengatakan, karena Pemerintah Indonesia, menginginkan blok tersebut di-develop, sementara dari kacamata keekonomian Exxon, tidak masuk. Ini tidak ada hubungannya dengan gross split atau Production Sharing Contract (PSC). Secara keekonomian Technical and Market (TMR), mereka mengatakan tidak masuk," ujarnya.

Meski tidak ikut dalam pengembangan East Natuna, Exxon tetap bersedia membantu dari sisi teknologi. Hingga saat ini, salah satu perusahaan yang memiliki teknologi untuk memisahkan kadar CO2 adalah ExxonMobil. 

"Belum ada teknologi yang sepengetahuan saya, yang murah men-develop itu. Tapi kalau kita usahakan, ada tidak teknologi lain yang kita pakai? Mungkin, tapi itu terserah Pertamina," tutup Arcandra. RH