Rabu, 26 Juli 2017

Genjot Produksi Hulu, Pertamina Butuh USD 100 Miliar dalam 10 Tahun ke Depan

Foto: Hrp
Makassar, OG Indonesia -- Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik mengatakan agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan BBM sebanyak 1,82 juta barel per hari (bph), di mana saat ini kebutuhan BBM Indonesia sekitar 1,5 sampai 1,6 juta bph, maka dibutuhkan impor BBM sekitar 1 juta bph. Sebab produksi minyak yang didapat di Indonesia hanya sekitar 800 ribu bph.

Massa Manik melanjutkan, minyak yang didapat dari lapangan minyak Pertamina yang ada di luar negeri juga belum terlalu membantu. "PIEP (Pertamina International EP) baru nyumbang 13 juta (barel dalam setahun). Sementara kalau 1 juta barrel per day, setahun kita butuh 365 juta barrel oil. Jadi 13 juta itu masih far away behind," kata Massa Manik ketika membuka acara Forum Sharing Teknologi Hulu (FSTH) 4 Pertamina di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (25/07).

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Massa Manik mengungkapkan diperlukan dana investasi sebesar USD 100 miliar dalam waktu 8-10 tahun ke depan. Sementara saat ini rata-rata investasi hulu Pertamina tiap tahunnya rata-rata berkisar USD 2,5 sampai 3 miliar. "Ini suatu challenge yang perlu kita sadari karena bisnis energi itu high capital dan high risk," tuturnya. 

Di tempat yang sama, Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Syamsu Alam mengutip apa yang dikatakan oleh Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, bahwa pada tahun 2030 kemungkinan produksi minyak nasional hanya sekitar 500 ribu bph. 

"Sekarang pertanyaannya adalah pada tahun 2030 berapa konsumsi minyak Indonesia? Pasti akan sekitar 2 juta (bph), lalu selisih antara 500 ribu dengan 2 juta apa usaha kita untuk mengisi itu?" ucap Syamsu Alam.

Karena itu menurutnya, Pertamina perlu dukungan Pemerintah agar bisa meningkatkan performa kerjanya lebih baik. "Kemudian Pertamina juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan ke luar negeri untuk membawa minyak kita (yang ada di lapangan Pertamina di luar negeri) ke dalam negeri," terangnya.

Mengamini pernyataan Dirut Pertamina, Syamsu Alam mengatakan hasil produksi minyak PIEP yang didapat dari lapangan-lapangan minyak Pertamina di Aljazair, Irak, dan Malaysia saat ini yang sebesar 13 juta barel dalam setahun dirasa masih jauh dari cukup. 

"Jadi masih banyak lagi yang harus kita lakukan, bukan hanya untuk Pertamina tapi untuk Indonesia, agar kita bisa mengurangi impor sehingga ketahanan energi kita bisa tercapai," jelasnya. RH