Jumat, 28 Juli 2017

Laba Bersih Astra dari Alat Berat dan Tambang Naik Jadi Rp 2,1 Triliun

Foto: unitedtractors.com
Jakarta, OG Indonesia -- Laba bersih Grup Astra dari segmen alat berat dan pertambangan meningkat sebesar 83% menjadi Rp 2,1 triliun. Demikian dikatakan Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dalam Laporan Keuangan Astra Semester I Tahun 2017 yang diterima OG Indonesia, Kamis (27/07).

"Sebagian besar bisnis Grup Astra memiliki kinerja yang baik pada semester pertama tahun 2017. Untuk sisa tahun ini, Grup Astra berharap mendapatkan manfaat dari harga batu bara yang  stabil,” kata Prijono. 

Seperti PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Astra, mendapat peningkatan laba bersih sebesar 85% menjadi Rp 3,4  triliun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kinerja segmen usaha mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan kegiatan pertambangan, yang seluruhnya mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batu bara.  

Sementara pada segmen usaha mesin konstruksi, volume penjualan alat berat Komatsu mengalami peningkatan sebesar 69% menjadi 1.751 unit, di mana pendapatan dari suku cadang dan jasa perbaikan juga meningkat. 

Lalu, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mencatat peningkatan produksi batu bara sebesar 4% menjadi 52 juta ton. Sedangkan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) meningkat sebesar 6% menjadi 360 juta bank cubic metres. Namun anak perusahaan UT dalam bidang pertambangan melaporkan penurunan penjualan batu bara sebesar 18% menjadi 3,6 juta ton.  

Dari PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 95% menjadi Rp 64 miliar dan mencatat penambahan kontrak baru senilai Rp 7,1 triliun sepanjang semester pertama tahun 2017, dibandingkan Rp 2,4 triliun yang berhasil diperoleh pada semester pertama tahun 2016.

Sedangkan dari PT Bhumi Jati Power (BJP), yang 25% sahamnya dimiliki oleh UT dan akan mengembangkan serta mengoperasikan dua pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas masing-masing 1.000  MW di Jawa tengah, dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2021. Proyek BOT (build,  operate  and  transfer)  ini  diperkirakan  akan  menelan biaya sekitar US$ 4,2 miliar. 

Dan dari PT Suprabari Mapanindo Mineral  (SMM), yang 80,1% sahamnya dimiliki oleh UT dan merupakan perusahaan coking coal (batu bara berkalori tinggi yang biasa digunakan sebagai campuran dalam peleburan baja) yang berlokasi di Kalimantan Tengah, diharapkan dapat mulai kegiatan produksi pada akhir tahun 2017 nanti. RH