Jumat, 07 Juli 2017

SKK Migas Deg-degan Setiap Hadapi Cost Recovery Jelang November

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Selama semester I tahun 2017, angka biaya operasi yang dikembalikan (cost recovery) dari kegiatan hulu migas sebesar USD 4,87 miliar. Jumlah tersebut sekitar 46% dari perkiraan beban cost recovery  pada tahun ini yang dipatok di angka USD 10,49 miliar. Namun pihak SKK Migas mengaku masih deg-degan, karena biasanya jumlah cost recovery baru akan melonjak setiap memasuki bulan November.

"Cost recovery dari yang diperkirakan USD 10,49 miliar, sampai dengan akhir Juni sudah masuk ke beban cost recovery USD 4,87 miliar atau 46 persen," kata Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi kepada wartawan di kantor SKK Migas di Gedung City Plaza, Jakarta, Kamis (06/07).

Dari total USD 4,87 miliar yang sudah menjadi beban cost recovery tersebut, komponen biaya terbesar adalah untuk biaya operasi produksi sebesar USD 2,36 miliar atau sekitar 48%. "Yang paling besar adalah biaya produksi sebesar 48 persen dari total cost recovery, kemudian depresiasi sebesar 28 persen dari total cost recovery," ujarnya.

Diterangkan Amien, beban cost recovery yang terbebani hampir 50% pada pertengahan tahun merupakan suatu hal yang wajar. Ia justru mengkhawatirkan kebiasaan naiknya angka cost recovery setiap jelang akhir tahun tepatnya pada bulan November dan Desember.

"Yang mengkhawatirkan buat kami, deg-degan, biasanya cost recovery akan masuk dalam jumlah besar pada bulan-bulan November dan Desember, terutama yang dari depresiasi," ungkapnya. 

Dipaparkan olehnya, SKK Migas sendiri saat ini sedang menghitung dan memperkirakan beban cost recovery yang besar pada tahun ini seperti dari Blok Mahakam. "Karena semua venture Mahakam yang dikeluarkan oleh Total itu akan dibebankan pada akhir tahun ini sesuai dengan berakhirnya kontrak PSC (Total di Blok Mahakam)," tuturnya.

Amien juga mengungkapkan beban cost recovery besar lainnya pada tahun ini berasal dari Lapangan Jangkrik yang dikelola oleh Eni. "Jadi karena sudah mulai on stream maka Lapangan Jangkrik akan berhak untuk mulai membebankan depresiasi pada tahun ini," jelas Amien.

Dilanjutkan olehnya, beban cost recovery pada pertengahan tahun 2017 yang baru mencapai 46 persen, belum layak dicatat sebagai sebuah keberhasilan dari kinerja SKK Migas untuk menekan cost recovery.

"Jadi kalau cost recovery sekarang baru tercapai 46 persen, ini tidak berarti kami sudah berhasil, tapi kami masih harus menjaga supaya di akhir tahun nanti beban yang masuk masih tetap dalam batas target yang diinginkan," paparnya.

Caranya, untuk cost recovery yang berasal dari komponen terbesar yaitu biaya operasi produksi, Amien menekankan pentingnya menjaga secara ketat biaya operasi yang dikeluarkan setiap harinya. 

"Kami harus mengendalikan terutama yang biaya operasi produksi yang mencakup 48 persen, ini harus dikendalikan day by day. Kalau untuk biaya depresiasi itu dikendalikan pada waktu project dibangun artinya manajemen proyeknya yang harus kami kendalikan," tutup Amien. RH