Kamis, 27 Juli 2017

Syamsu Alam: Blok East Natuna Belum Ekonomis

Syamsu Alam, Direktur Hulu Pertamina
Foto: Hrp
Makassar, OG Indonesia -- Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Syamsu Alam mengatakan pengembangan Blok East Natuna untuk saat ini belum ekonomis.

"Bisa dibilang belum ekonomis, dengan teknologi saat ini dengan harga gas yang bisa diserap di market masih belum ketemu," kata Syamsu Alam kepada OG Indonesia di sela-sela acara Forum Sharing Teknologi Hulu (FSTH) ke 4 Pertamina di Makassar, Selasa (25/07).

Diungkapkan olehnya, untuk lapangan East Natuna sebetulnya adalah lapangan CO2 yang terdapat sumber gas bumi. "Sebetulnya bukan lapangan gas di East Natuna, itu adalah lapangan CO2 yang ada gasnya, karena CO2-nya 72 persen," ucapnya.

Karena itu pengembangan Blok East Natuna menjadi penuh tantangan baik dari sisi teknologi maupun keekonomian lapangan. "Harus kita cari teknologi yang sesuai agar bisa komersial, nah sampai sekarang kita belum (ketemu)," lanjutnya.

Karena pertimbangan keekonomian yang belum masuk tersebut pula, Exxon Mobil yang menjadi bagian konsorsium pengembangan Blok East Natuna bersama Pertamina dan PTTEP, telah menulis surat secara resmi terkait permohonan menarik diri dari konsorsium beberapa waktu lalu. 

"Kalau PTTEP belum resmi (menarik diri), baru lisan bilang ke Pertamina. Kalau Exxon sudah menulis surat resmi," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja kepada OG Indonesia di tempat yang sama.

Pihak Kementerian ESDM sendiri saat ini masih menunggu hasil kajian dari Technology and Market Review (TMR) dari Blok East Natuna. "Kita kan tunggu paparan dulu, hasil TMR-nya Pertamina bersama Exxon dan PTTEP. Kita lihat paparannya, kita analisis, setelah itu what action-nya next," ucapnya.

Diterangkan Wirat, untuk saat ini pihak pemerintah masih menjadwalkan waktu untuk paparan detail dari kajian TMR East Natuna dari Pertamina dan tim konsorsiumnya. "Nanti dari situ ada alternatif-alternatif masukan (terkait masa depan Blok East Natuna). Karena kita belum lihat jadi belum mutusin apa-apa," pungkas Wirat. RH