Kamis, 10 Agustus 2017

Blackspace Bantah Tumbang Karena Relaksasi Ekspor Konsentrat

Yosef Paskananda,
Direktur Bisnis Blackspace
Foto: ET
Jakarta, OG Indonesia -  Kebijakan relaksasi ekspor konsentrat dan mineral mentah kadar rendah telah berikan sinyal buruk bagi investasi pembangunan smelter dan iklim investasi secara keseluruhan. Tak heran banyak perusahaan smelter atau pengolahan mineral hentikan operasinya. 

Namun, ditegaskan pihak PT Blackspace, mewakili perusahaan pelaku usaha smelter lainnya seperti, PT Macika Mineral Industri, PT Bintang Smelter Indonesia, PT COR Industri, dan PT Megah Surya, bahwa pembangunan smelter Blackspace mereka masih berjalan. 

Bahkan perusahaan yang baru beroperasi 2,5 tahun di Indonesia ini sudah menggelontorkan investasi yang besar untuk pembangunan pabrik smelter. Blackspace pun secara tegas membantah mengalami kebangkrutan akibat kebijakan relaksasi ekspor mineral Indonesia. 

Yosef Paskananda selaku Direktur Bisnis Blackspace menjelaskan, saat ini Blackspace sedang memproses penyelesaian tahap akhir dan uji coba atau commisioning di fasilitas pengolahan hasil tambang atau smelter mereka.

"Justru kita akan membangun 10 smelter dan saat ini Blackspace memang sedang melakukan proses commisioning terhadap dua smelter mereka yang baru rampung dua bulan lalu," jelas Yosef dalam konferensi pers di Noble House, Jakarta, Rabu (09/08).

Ke depannya, pihak Blacspace berharap bisa menghasilkan produk yang lebih berkualitas. "Kita lagi commisioning, lagi progress menuju optimalisasi, menentukan standar nikel yang baik, mungkin bulan depan bisa dilakukan (pengolahan)," ucapnya.

Yosef menambahkan, saat ini Blackspace tidak hanya fokus pada industri smelter saja, namun juga pengembangan terhadap lima tambang nikel Indonesia, yakni Morowali di Sulawesi Tengah dan Kabaena di Sulawesi Tenggara. 

"Di Kabaena ada dua, di Morowali ada tiga. Di Kabaena, cadangannya itu 50 juta ton. Kalau di Morowali cadangannya hampir sama, nikel semua," tuturnya.

Sementara itu Ramli Halim selaku Direktur PT Macika Mineral Industri, juga memberi pernyataan serupa dalam kesempatan yang sama. Ia membantah pihaknya gulung tikar akibat kebijakan relaksasi ekspor mineral.

Menurutnya, perusahaan smelter yang merugi di antaranya adalah perusahaan yang hanya fokus di Industri smelter saja. "Jadi, yang ribut itu adalah mereka yang tidak punya tambang. Kalau kita semua yang punya tambang, ya kami tidak apa-apa. Malahan itu sangat membantu keuangan dari pengusaha smelter tersebut," imbuhnya. ET/RH