Kamis, 10 Agustus 2017

Penurunan Investasi Migas Indonesia, Arcandra: Kita Rata-Rata Dunia

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menegaskan bahwa penurunan investasi di subsektor migas di Indonesia merupakan dampak dari tren global. Arcandra menanggapi atas nilai investasi pada capaian kinerja semester awal tahun 2017 di subsektor migas yang sebesar USD 4,8 miliar.
 
"Apakah investasi di sektor migas menurun? Ini data, investasi energi di dunia itu turun 12 persen. Untuk oil and gas itu sekitar 25 persen, Indonesia turunnya sekitar 26 sampai 27 persen. Kita rata-rata dunia," ungkap Arcandra di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (08/08). 

Arcandra juga menepis anggapan bahwa munculnya skema gross split menjadi faktor utama atas anjloknya investasi hulu migas. Ia optimistis bahwa skema gross split justru menarik minat para kontraktor. 

"Tahun lalu WK (Wilayah Kerja) yang kita tawarkan hampir enggak ada satupun yang menjadi tanda tangan. Tahun lalu itu bukan gross split, baru tahun ini," jelasnya. 

Ditambahkan oleh Direktur Jenderal Migas Ego Syahrial di tempat yang sama, bahwa ada respon positif dari para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mengenai skema gross split. "Sekarang, dengan sistem gross split yang kita keluarkan, sudah ada 15 (bid dokumen) dari kontraktor yang merespon positif. Jadi sudah ada yang mengambil dokumen," ungkap Ego. 

Arcandra juga menekankan penurunan nilai investasi tidak selalu berdampak negatif bagi iklim investasi. Perusahaan melakukan efisiensi modal dengan tetap menjaga produksi migas. "Ada beberapa Capex (belanja modal) yang kita turunkan. Jadi, jangan melihat investasi ini besaran saja, tapi melihat output-nya seperti apa," tegas Arcandra. RH