Kamis, 03 Agustus 2017

SAE Akan Bor Sumur Eksplorasi Pertama di WKP Baturraden Pada Akhir 2017

Daniel Moelk, Herman Afif Kusumo,
dan Bregas H. Rochadi (kiri-kanan).

Jakarta, OG Indonesia -- PT Sejahtera Alam Energy (SAE) siap melakukan pengeboran sumur eksplorasi pertamanya untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Baturraden pada akhir tahun 2017 nanti.

Dikatakan oleh Daniel Moelk, President Director SAE, bahwa pihaknya tengah mempersiapkan infrastruktur jalan untuk mulai melakukan pengeboran sumur eksplorasi pertama dari proyek Baturraden. "Sumur eksplorasi akan dibor sampai kedalaman 3.500 meter, sangat dalam," kata Daniel Moelk kepada wartawan termasuk OG Indonesia di sela-sela acara IIGCE 2017 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (03/08).

Dari tiga pengeboran sumur awal, SAE menargetkan satu sumur bisa mulai dibor pada akhir tahun ini. Untuk pengeboran satu sumur, diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. "Drilling rig yang dipakai memiliki kekuatan 2.000 Horse Power (HP) yang biasa digunakan di industri migas, rignya berasal dari Apexindo," ungkap Daniel.

Ditambahkan olehnya, dari pengeboran sumur eksplorasi tersebut, diharapkan akan menemukan sumber uap panas yang potensial digunakan untuk menggerakkan turbin dari pembangkit listrik. "Penelitian terakhir, saya yakin kami dapat mendapatkan sekitar 220 Megawatt (MW)," jelasnya. 

Selanjutnya, diharapkan pada kuartal kedua tahun 2018, SAE sudah bisa menyampaikan preliminary feasibility study yang pertama kepada pihak Pemerintah tentang seberapa besar potensi sebenarnya dari WKP Baturraden. 

"Selanjutnya kami akan masuk ke tahap eksploitasi dan kami menargetkan untuk mulai mengoperasikan PLTP kami pada akhir tahun 2022," tuturnya. Listrik dari PLTP Baturraden rencananya akan masuk ke jaringan sistem Jawa-Bali lewat transmisi Bumiayu. 

Selain menyediakan listrik, SAE juga akan membangun jaringan transmisi sepanjang 17 kilometer untuk masuk ke sistem Jawa-Bali tersebut. Saat ditanya tentang berapa kesepakatan harga Power Purchase Agreement (PPA) antara SAE dan pihak PLN, Daniel Moelk menjawab, "9,47 sen per kilowatt hour (kWh)". 

WKP Baturraden berada di lima kabupaten di kawasan Gunung Slamet, Jawa Tengah, dan memiliki luas area 24.800 hektare. Namun, pihak SAE yang sekitar 75% sahamnya dimiliki oleh perusahaan asal Jerman yaitu STEAG GmbH dan 25% dipegang oleh PT Trinergy, hanya memakai sekitar 50 hektare saja untuk kegiatan operasinya.

Dalam perhitungan SAE, untuk mengembangkan seluruh proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi 2x110 MW di Baturraden akan menelan biaya antara USD 900 juta sampai USD 1 miliar. "Sampai saat ini kami sudah mengeluarkan dana di atas USD 30 juta," terang Daniel.

Ditambahkan oleh Herman Afif Kusumo, Presiden Komisaris SAE, dengan uang sekitar USD 30 juta yang telah dikeluarkan SAE sampai saat ini, menunjukkan keseriusan SAE dalam mengembangkan potensi geothermal yang ada di Indonesia. 

"Kita sudah habis 30 juta dollar lebih, sudah siapkan dana sampai 75 juta dollar, mungkinkah akan lari begitu saja," tegas Herman terkait keseriusan SAE. "Kami sangat percaya diri bahwa kami dapat mengembangkan potensi panas bumi di Indonesia," pungkas Herman. RH