Jumat, 29 September 2017

Batan Tekan Biaya Pembangunan Cikal Bakal Reaktor PLTN Sampai Rp 2,1 Triliun

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto
(paling kanan) dan Kepala PTKRN
Batan Geni Rina (paling kiri).
Foto: Hrp
Tangerang Selatan, OG Indonesia -- Rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang digagas sejak tahun 2013, kini telah mencapai babak baru dengan diselesaikannya dokumen Basic Design Engineering (BDE) oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

RDE merupakan reaktor riset yang digadang dapat menghasilkan listrik dengan kapasitas 10MWt atau sekitar 3 MWe. RDE ini nantinya akan dijadikan sebagai percontohan bagi seluruh masyarakat bahwa bangsa Indonesia mampu membangun dan mengoperasikan reaktor dengan aman dan selamat.

Dan pada Kamis (28/09) bertempat di kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, telah diluncurkan dokumen Basic Design Engineering untuk semakin mempertegas bahwa bangsa Indonesia mampu menyusun desain RDE sebagai cikal bakal reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Merah Putih di Indonesia. 

Dikatakan oleh Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto, ide awal Batan untuk menyusun BDE sendiri adalah untuk menekan biaya dalam pembangunan RDE yang akan dilakukan. "Lebih baik kita menghitung sendiri saja, jangan terlalu bergantung pada luar," kata Djarot dalam konferensi pers di kawasan Puspiptek Serpong, Kamis (28/09).

Diungkapkan Djarot, perkiraan biaya untuk membangun RDE awalnya diperkirakan mencapai Rp 4,3 triliun. "Namun kita bisa memperkirakan dan menurunkan menjadi Rp 2,2 triliun dengan Basic Design Engineering ini," ucapnya. Alhasil biaya pembangunan RDE pun bisa ditekan sampai Rp 2,1 triliun.

Ditambahkan oleh Kepala Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) Batan Geni Rina, BDE ini merupakan pengembangan dari desain konseptual yang sebelumnya telah dibuat PT Renuko pada tahun 2015. PT Renuko merupakan pihak yang memenangkan lelang sebagai pembuat Desain Konseptual RDE. “Konseptual desain seperti peta buta, sedangkan Basic Design sudah jauh lebih rinci,” jelasnya.

BDE yang diluncurkan saat ini merupakan versi nol, dan tahun depan akan dilakukan uji secara eksperimental dari beberapa bagiannya. Dari uji tersebut, data yang didapatkan akan dijadikan masukan balik ke basic design untuk versi selanjutnya. BDE ini diklaim sebagai desain reaktor daya pertama kali yang dihasilkan Indonesia.

“Selain itu tahun 2018, BATAN akan membuat alat uji, seperti fuel handling system, helium purifikasi, dan control rod untuk melakukan uji coba secara eksperimen,” tambah Geni.

Menurutnya, kelebihan RDE yang bertipe Hight Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR) selain menghasilkan listrik, juga dapat menghasilkan uap panas yang dapat digunakan untuk aplikasi industri seperti pelelehan batu bara, pembuatan gas hidrogen, pembuatan gas metan dari gas alam, desalinasi air laut dan proses kimia lainnya yang membutuhkan panas yang tinggi.

Dengan selesainya BDE versi nol ini, Geni berharap Batan akan merambah ke validasi dengan data eksperimental, dan dikerjakan secara konsorsium yang melibatkan Universitas dan Industri. 

“Pada akhirnya dapat dibangun reaktor daya dan di-scale up menjadi PLTN komersial di Indonesia sebagai karya anak bangsa. Dengan demikian Indonesia menjadi negara yang terdepan dalam menjadi technology provider,” tutup Geni. RH