Senin, 04 September 2017

Naiknya Harga Batubara Kerek Pendapatan Indika Energy

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Perusahaan energi terintegrasi PT Indika Energy Tbk. merilis Laporan Keuangan semester I tahun 2017 (H1 2017). Dalam laporan keuangannya tersebut, Indika mengklaim bahwa pihaknya mencatat kinerja yang lebih baik pada kuartal II tahun 2017 (Q2 2017) dibanding kuartal pertama di tahun yang sama.

“Ini merupakan hasil upaya turnaround yang Indika Energy lakukan sejak dua tahun terakhir dan sebagai dampak naiknya harga batubara. Hampir seluruh unit usaha Grup Indika Energy mencatat peningkatan signifikan,” tutur Arsjad Rasjid, Direktur Utama Indika Energy, Senin (04/09).

Sepanjang H1 2017, Perseroan berhasil membukukan Pendapatan USD 453 juta, atau meningkat 27% dibandingkan USD 356,6 juta di periode yang sama tahun sebelumnya. Faktor utama meningkatnya pendapatan di antaranya berasal dari pendapatan Petrosea yang meningkat 22,4% berkat bertambahnya volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) dari proyek Tabang dan Kideco Jaya Agung. 

Selain itu pendapatan Tripatra juga meningkat 25,6% sebagai kontribusi pekerjaan engineering, procurement and construction (EPC) onshore di proyek ekspansi Tangguh (LNG Train 3) dari BP Berau. Lalu, pendapatan dari bisnis perdagangan batubara juga melonjak 55,4% akibat naiknya harga jual batubara. 

Laba Kotor H1 2017 meningkat signifikan sebesar 89,3% menjadi USD 56,5 juta dibanding USD 29,8 juta di H1 2016. Laba Usaha meningkat menjadi USD 14,2 juta dibanding Rugi Usaha sebesar USD 17,6 juta di H1 2016. 

Salah satu faktor penting yang menyebabkan peningkatan laba Perseroan adalah turunnya Beban Umum dan Administrasi H1 2017 sebesar 10,9% menjadi USD 42,3 juta dari USD 47,4 juta di H1 2016 sebagai hasil positif dari inisiatif pengurangan biaya di seluruh perusahaan.   

Sementara itu, Bagian Laba Bersih Entitas Asosiasi dan Pengendalian Bersama Entitas meningkat drastis sebesar 179,2% menjadi USD 73,3 juta berkat kontribusi produsen batubara Kideco Jaya Agung yang mencatat perbaikan harga jual rata-rata. Hasilnya, Perseroan membukukan Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar USD 51,2 juta dibanding Rugi US$ 22,4 juta di H1 2016.  

“Ke depannya, kami terus membangun kemampuan organisasi dan operasi usaha melalui peningkatan produktivitas, pengendalian biaya, dan stabilisasi operasi. Dengan posisi keuangan yang semakin kuat, kami menjadi lebih siap dalam mengantisipasi peluang-peluang pertumbuhan bisnis,” tambah Arsjad. RH