Senin, 18 September 2017

Tak Mau Kolaps, Pertamina Bentuk Kembali Direktorat untuk Tangani Risiko

Gigih Prakoso, Direktur Perencanaan,
Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Pada 15 Agustus 2017 yang lalu, Menteri BUMN menambah dua jabatan direksi di Pertamina, yaitu Direktur Perencanaan, Investasi dan Manajemen Risiko (PIMR), dan Direktur Manajemen Aset. Pembentukan kembali Direktorat PIMR diyakini sebagai strategi Pertamina dalam menghadapi risiko yang besar dalam industri migas.

"Karena besarnya risiko yang kita hadapi, kalau tidak di-manage dengan baik itu bisa membuat Pertamina kolaps," kata Direktur Perencanaan, Investasi dan Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero) Gigih Prakoso kepada OG Indonesia yang bertemu dengannya di kantornya, Jakarta (14/09).

Sebelumnya, pada saat Pertamina dipimpin oleh Dwi Soetjipto, fungsi manajemen risiko sempat terkena dampak perampingan organisasi, di mana dimasukkan ke dalam Direktorat Keuangan. "Sekarang manajemen yang baru berinisiatif bahwa pengelolaan risiko ini jadi hal yang penting secara organisasi, sehingga perlu ada yang meng-handle," ucap Gigih.

Di bawah kepemimpinan Gigih, Direktorat PIMR, akan bertanggungjawab dalam pengelolaan risiko, bukan hanya pada level korporat tapi juga ke seluruh anak perusahaan. "Masing-masing akan kita lihat bagaimana kesiapannya, planning-nya, mitigasinya, bagaimana responnya terhadap risiko, seberapa efektif dan seberapa cepat?" paparnya.

Ditambahkan olehnya, semua hal tersebut harus dilakukan agar semua kegiatan usaha yang dilakukan di Pertamina bisa optimal dan dapat meminimalisir potensi kerugian. 

"Manajemen risiko kita itu sudah mengaplikasikan ISO 31000 tentang Risk Management. Dan kita sendiri sudah punya pedoman atau guidance internal, ini selalu kita sosialisasikan dan improve jika ada perkembangan di luar," tutup Gigih. RH