Rabu, 27 September 2017

Ternyata Limbah Radioaktif Bukan Bahan yang Paling Berbahaya

Foto: asianscientist.com
Depok, OG Indonesia -- Mendengar kata radioaktif yang langsung terpikir di kepala orang banyak adalah pencemaran dan radiasi nuklir yang sangat berbahaya. Tetapi ternyata, di dunia ini masih banyak bahan-bahan yang lebih berbahaya daripada radioaktif.

"Kalau orang dengar yang namanya radioaktif atau radiasi nuklir, bayangannya bahaya sekali, karena awalnya kita mengerti akan radioaktif atau nuklir atau radiasi karena bom atom," kata Suryantoro, Deputi Teknologi Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dalam Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah XV di Universitas lndonesia, Depok, Selasa (26/09).

Dikatakan Suryantoro mengutip data dari Departemen Transportasi Amerika Serikat, ternyata urutan bahaya dari zat atau limbah radioaktif hanya berada pada urutan ke tujuh dari sembilan bahan yang dikategorikan berbahaya.

ia pun mengurutkan, di mana di urutan pertama yang merupakan kelas paling berbahaya adalah bahan explosive. "Yang kedua adalah gasses, yang ketiga flammable liquids, yang keempat solid flamable, yang kelima adalah oksidator, yang keenam toxic, baru yang ketujuh zat radioaktif. Setelah itu ada corrosive materials dan macam-macam hazardous materials," papar Suryantoro.

"Jadi saya akan lebih takut berjalan di belakang truk yang membawa elpiji dibanding yang membawa zat radioaktif, apalagi untuk mengangkut radioaktif itu persyaratannya ketat," tuturnya.

Di Indonesia, beberapa industri yang berpotensi menghasilkan limbah radioaktif antara lain dari industri pertambangan, industri baja, industri kimia, industri farmasi, industri kosmetik dan kegiatan rumah sakit yang terkait dengan pemeriksaan medis dan terapi penyakit. Saat ini, jumlah pemegang izin penggunaan bahan radioaktif di Indonesia telah mencapai lebih dari 15.000 pemegang izin yang mempunyai potensi penghasil limbah radioaktif.

Batan melalui Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran untuk melakukan pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia. Sebagai satu-satunya institusi yang melakukan pengelolaan limbah radioaktif, Batan mempunyai tugas mengolah dan menyimpan limbah radioaktif yang dihasilkan oleh aktivitas industri, rumah sakit dan litbang.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan menciptakan aplikasi pengurusan administrasi pengelolaan limbah radioaktif secara online. Aplikasi online yang diberi nama eLira ini mampu memangkas waktu pengurusan administrasi yang semula membutuhkan 14-30 hari, kini hanya 2 hari. RH