Rabu, 04 Oktober 2017

Analis: Pertamina Harus Berani Lakukan Kegiatan Eksplorasi

Dirgo D. Purbo, Analis Energy Security.
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Kegiatan operasi hulu migas yang berisiko dan cenderung bersifat gambling, harus dibantu dengan database geoscience yang baik agar upaya selama masa eksplorasi migas dapat berlangsung sukses. Sebagai perusahaan migas nasional, Pertamina pun harus melakukan upaya-upaya ke arah tersebut.
 
Dikatakan oleh Dirgo D. Purbo, Analis Energy Security, perusahaan yang bergerak di industri migas memang harus fokus pada sektor hulu. "Karena di situlah sumber uangnya, sumber profit dari industri perminyakan," ucap Dirgo kepada OG Indonesia di Jakarta, Senin (02/10). "Ada satu rule of thumb, kalau kita memiliki 1 barel minyak, itu artinya kita memiliki nilai ekonomisnya yang bisa 5 sampai 10 kali lipat dari harga crude oil," ungkapnya.

Karena itu, menurut penulis buku "Geopolitik Perminyakan" ini, dengan menguasai hulu migas maka otomatis suatu perusahaan bisa menguasai bisnis migas sampai ke hilir. Ia pun memaparkan tentang vertical integration, di mana untuk menjaga energi nasional maka perusahaan energi nasional seperti Pertamina seharusnya jangan dipecah-pecah unit bisnisnya alias harus menguasai secara keseluruhan dari hulu sampai hilir.

Sayangnya, saat ini di bawah rezim Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pertamina tak lagi menguasai bisnis migas dari hulu dan sampai ke hilir. Tak seperti dahulu kala masa di bawah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara. "Liar perbedaan yang mendasar dengan perubahan Undang-Undang itu, Pertamina tidak punya lagi kontrol atas sektor hulu," tegas Dirgo.

Kendati demikian, dikatakan Dirgo, Pertamina harus terus berupaya meningkatkan produksi migas secara signifikan guna memenuhi kebutuhan BBM nasional, salah satunya dengan meningkatkan kegiatan di sisi hulu migas. "Indonesia kan sudah menjadi negara net oil importer, akan ada ketergantungan terhadap negara-negara produsen minyak. Jadi kalau kita sudah ketergantungan, pada harga berapa pun kita akan beli, ini yang mengerikan," bebernya.

Dilanjutkan Dirgo, untuk itu Pertamina mau tak mau harus berani melakukan kegiatan eksplorasi migas. "Strategi nasional kita yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi net oil importer ini, minimal kita harus mereduksi ketergantungan impor tersebut. Harus lakukan eksplorasi, dan kalau bisa lakukan eksploitasi dengan EOR dan sebagainya," paparnya.

Dirgo mengatakan Pertamina sebenarnya punya banyak success story terkait kegiatan eksplorasi di hulu migas. "Tinggal komitmennya dalam me-manage risiko kegagalan dari eksplorasi itu, untuk itu perlu ditingkatkan database geoscience, ini kuncinya," pungkas Dirgo. RH