Kamis, 26 Oktober 2017

"Operasi Semut" PHE WMO dan Masyarakat Bersihkan Pantai Labuhan

Bangkalan, OG Indonesia -- Setelah  berhasil  meraih  meraih  Proper  Emas  di  tahun  2016  lalu,  kini  Pertamina Hulu  Energi  West  Madura  Offshore  (PHE  WMO)  bersama  masyarakat  kembali  berjuang mempertahankan penghargaan bergengsi itu agar tetap diterima Jawa Timur.

Salah  satu  yang  dilakukan  adalah  melakukan  Operasi  Semut  oleh  manajemen  PHE  WMO  dan warga  sekitar  yang  dilanjutkan  dengan  sosialisasi  dan  penyuluhan  konservasi  hutan mangrove  yang  ada  di  Taman  Pendidikan  Mangrove,  Kecamatan  Sepuluh,  Bangkalan,  Selasa (24/10). 

Keberadaan  hutan  mangrove  bukan  sekadar  menjadi  penahan  abrasi  pantai,  penahan gelombang  tsunami,  dan  intrusi  air  laut,  tetapi  juga  memiliki  fungsi  ekologi.  Yakni,  sebagai tempat  mencari  makan,  tempat  berkembang  biak  dan  pengasuhan  binatang  dan  pertukaran nutrisi.

“Secara  keseluruhan,  pengelolaan  area  konservasi  mangrove  di  Labuhan  ini  sudah  sangat bagus. Tapi, kegiatan kampanye agar kita semua tetap menjaga kelestarian hutan mangrove ini perlu terus dipromosikan. Salah satunya, mengingatkan bahaya sampah pagi pohon mangrove,” kata General Manager PHE WMO Kuncoro Kukuh.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim Dian Susilowati  beserta  jajarannya  serta  para  aktivis  Kelompok  Tani  Mangrove  Cemara  Laut Sejahtera dan dimeriahkan kehadiran 65 siswa SD di sekitar wilayah Labuhan.

Setelah  dibagi  dalam  sepuluh  kelompok,  seluruh  peserta  menuju  ke  bibir  pantai  untuk memunguti sampah yang ada di pinggir pantai atau tersangkut di pohon bakau. Masing-masing kelompok  berlomba  mengumpulkan  sampah  sebanyak-banyaknya.  Kegiatan  yang  diberi  nama Operasi  Semut  ini,  dimaksudkan  untuk  mengingatkan  kembali  arti  penting melestarikan  area konservasi mangrove.

“Lebih  dari  itu,  juga  sudah  terbukti,  pelestarian  hutan  mangrove  telah  menunjang perekonomian  masyarakat  di  area  ini.  Karena  itu,  pada  tahun  2017,  PHE  WMO  memperluas wilayah  binaan  di  sekitar  TPM  Labuhan.  Ini  penting  agar  manfaat  ekologi  dan  ekonomi  bisa dinikmati  secara lebih luas,” katanya.

Mangrove in Office

Setelah  melakukan  Operasi  Semut,  warga  dan  pelajar  mengikuti  kegiatan  sosialisasi  dan penyuluhan  konservasi  hutan  mangrove  juga  diajari  cara  penanaman  mangrove,  termasuk menanam mangrove dengan menggunakan botol bekas.

Kegiatan  menanam  mangrove  di  dalam  botol  itu  merupakan  pengembangan  kegiatan Mangrove  in  Office  (MIO)  yang  dilakukan  karyawan  PHE  WMO.  Selain  untuk  menumbuhkan rasa cinta pada mangrove, MIO merupakan apresiasi karyawan  PHE WMO pada Kelompok Tani Mangrove  Cemara  Sejahtera  yang  mendukung  program  PHE  WMO  mengembangkan  Taman Pendidkan Mangrove sejak 2013 lalu.

“Pembuatan  MIO  ini  telah  dipatenkan,  semoga  bisa  memberi  nilai  tambah  bagi  masyarakat,” jelas Kukuh.

Dari pengamatan lapangan, hutan bakau yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi  di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrorve (BPHM) Wilayah I Bali itu kini  menjadi salah satu destinasi wisaya di pesisir utara pulau Madura.

Pada  hari  Sabtu  dan  Minggu  ratusan  pengunjung  dari  berbagai  daerah,  berdatangan menikmati kesejukan  hutan  mangrove  seluas  3,5  hektare.  Ada  17  jenis  mangrove  di  area  ini, antara  lain,  Sonneratia  Alba  (Prapat),  Rizhophora  Stylosa,  Stenggi,  Rhizopora  Apiculata, Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, Ceriops Tagal, dan Avicenna Marina.

Di  lokasi  ini  pengunjung  juga  bisa  menikmati  kicauan  burung  Rhipidura  Javanica,  Passer Montanus,  Gerigone  Sulphurea,  dan  Prinia  SP.  Hutan  mangrove  yang  terjaga  ini  juga  dihuni burung  migran  seperti   Gajahan  Pengala  (Whimbrel  Numenius/Phaeopus),  Cerek  (Plover, Charadrius SP), dan Trinil Kaki Merah (Common Redshank/Tringa Totanus).

Seiring  dengan  perkembangan  ekosistem,  kini  hutan  mangrove  ini  juga  mulai  didatangi gerombolan  kera  dari  Desa  Lembung  Pesisir,  Kecamatan  Sepulu.   Menurut  pengamat mangrove, Agus Satriyono,  kehadiran satwa liar seperti kera, elang, dan aneka burung migran di kawasan mangrove menjadi indikasi  keberhasilan sebuah upaya konservasi lahan pesisir.

“Ini  bukti  keberhasilan  PHE  WMO  mengembangkan  kawasan  pesisihan  di  Labuhan  menjadi kawasan  konservasi,  sekaligus  menjadi  bukti  adanya  dukungan  luas  dari  masuarakat  yang tergabung dalam kelompok tani ," ungkap alumnus Fakultas MIPA Jurusan Biologi ITS Surabaya itu. 

Lokasi  TMP  yang  setiap  hari  dibuka  untuk  umum  mulai  07.00  hingga  17.00.  kini  juga  menjadi lokasi penelitian.  Sejak 2015, tercatat sebanyak 13 kampus di Pulau Jawa melakukan penelitian. RH