Jumat, 06 Oktober 2017

Wamen ESDM Tegaskan Kembali Bahwa Gross Split Reduksi Inefisiensi

Foto: esdm.go.id
Jakarta, OG Indonesia -- Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menegaskan kembali bahwa penerapan skema Gross Split dilakukan untuk membuat kegiatan hulu migas lebih efisien dan iklim investasi hulu migas semakin menarik bagi investor.

"Gross Split adalah salah satu cara mengefisienkan agar mulai dari discovery oil sampai first oil itu tidak lagi memakan waktu hingga 15 tahun," ujar Wamen Arcandra di depan para peserta Seminar Inovasi di PT Rekayasa Industri, Jakarta, Rabu (04/9).

Arcandra mengungkapkan bahwa salah satu alasan penerapan skema Gross Split adalah untuk mereduksi inefisiensi yang terjadi pada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dengan skema gross split, Pemerintah tidak ikut campur terhadap proses pengadaan barang dan jasa kegiatan usaha hulu migas seperti yang dilakukan dengan mekanisme cost recovery selama ini. Sehingga diharapkan KKKS dapat lebih fleksibel dalam melakukan efisiensi biaya produksi dan inovasi teknologi.

"Yang tahu cost persisnya siapa? Yang tahu persis adalah KKKS. Birokrasi hanya menduga-duga. Dengan Gross Split, Pemerintah tidak ikut campur lagi dalam menentukan cost. Cost-debate ini yang memakan waktu yang tidak sebentar," terangnya. 

Dilanjutkan olehnya, Cost Recovery seringkali menimbulkan beberapa permasalahan. Salah satunya menimbulkan perdebatan antara SKK Migas dengan KKKS dalam menentukan biaya mana dan berapa yang harus di ganti oleh Pemerintah dan biaya mana yang tidak dapat diganti. Kondisi ini tidak jarang menghambat tata waktu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas.

Arcandra juga menjelaskan, dengan menggunakan skema Gross Split maka penerimaan negara menjadi lebih pasti. "Cost (biaya) akan ditanggung sepenuhnya oleh kontraktor, bagian negara tidak berubah, karena basis perhitungan, parameter, kriteria dan poin-poin yang menjadi bagian negara dan kontraktor sangat jelas," pungkasnya. RH