Kamis, 11 Januari 2018

Dirjen Gatrik dan EBTKE Beberkan Capaian Kinerja 2017 dan Target 2018

Djoko Abu Manan (PLN), Andy Noorsaman
Someng (Dirjen Gatrik), Rida Mulyana
(Dirjen EBTKE) (dari kiri ke kanan).
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana dan Direktur  Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik), Andi Noorsaman Someng, serta Direktur Pengembangan Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, Djoko Abu Manan memaparkan Kinerja Akhir Tahun 2017 dan Outlook 2018 Subsektor Ketenagalistrikan dan EBTKE di kantor Kementerian ESDM, Rabu (10/01).

Dalam paparannya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Andi Noorsaman Someng mengungkapkan bahwa per awal tahun 2018 (31 Desember 2017), rasio elektrifikasi ketenagalistrikan sudah mencapai 94,91% yang berarti di atas target tahun 2017. Namun untuk Kapasitas terpasang pembangkit mencapai 61 GW, sedikit meleset dari target yang telah ditetapkan pada 2017 yaitu sebesar 62 GW.

“Untuk progress Program 35 GW status per akhir November 2017 yaitu pelaksanaan program yang sudah COD sebesar 1061 MW (3%), kemudian committed dan on going itu sebesar 82% yang terdiri dari konstruksi 16.992 MW, PPA yang sudah menandatangani kontrak jual-beli namun belum konstruksi sebesar 12.726 MW, dan pada tahap pengadaan 2.790 MW. Perencanaan seimbang dengan pengadaan sebesar 2.228 MW,” papar Andy.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana dalam penjelasannya menerangkan beberapa hal, di antaranya kemajuan kontrak EBT yang meningkat dari tahun ke tahun. Di mana pada tahun 2017 telah ditandatangani 68 PPA dengan total kapasitas terbangkitkan mencapai 1207 MW. 

Lalu, untuk status saat ini, dari 68 PPA yang ditandatangani tersebut, ada 55 yang masih berproses untuk mendapatkan FC (Financial Closing). "Sementara untuk PPA yang sudah mendapatkan FC namun belum memulai proses konstruksi ada sebanyak 5 unit, sedangkan untuk yang sudah memulai konstruksi terdapat 8 unit," jelas Rida.

Dirjen EBTKE juga menerangkan terkait program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang ditargetkan selesai dalam 2 tahun (2017-2018). Di mana pada tahun 2018 ini ditargetkan terdapat 80.000 Kepala Keluarga (KK) yang bisa menikmatinya. Jumlah tersebut berarti naik dua kali lipat dibandingkan target tahun 2017. "Sebanyak 176.000 unit LTSHE direncanakan akan dibagikan di tahun ini," ujar Rida. 

Pada tahun 2018, LTSHE dibagi menjadi 15 paket pengadaan di mana dua paket di antaranya sudah dilelang dan 13 paket lainnya akan dilelang dalam minggu ini. Dalam paparannya, Dirjen EBTKE menegaskan bahwa Program LTSHE adalah program temporary alias sementara, sehingga Pemerintah meminta kepada penyedia untuk menjamin LTSHE yang diproduksi dapat terus menyala selama 3 tahun.

"Setelah tiga tahun, program LISSA (Listrik Desa) diharapkan bisa masuk di daerah-daerah yang pada saat ini masih menggunakan LTSHE," pungkas Rida. RH