Rabu, 31 Januari 2018

Ekspor Biodiesel Indonesia Masih Akan Hadapi Tantangan di Tahun 2018

Togar Sitanggang, Sekjen Gapki
(kedua dari kiri).
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi pada tahun 2018 ini, kendati nilai dan volume ekspor minyak sawit Indonesia akan meningkat sekitar 10%, namun Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tantangan berupa kampanye negatif dan isu yang menghambat perdagangan sawit ke luar negeri, termasuk untuk ekspor biodiesel.

"Hambatan perdagangan yang dilakukan oleh berbagai negara sangat ironis dengan kinerja ekspor yang masih meningkat cukup signifikan," kata Sekretaris Jenderal Gapki Togar Sitanggang dalam konferensi pers di kantor Gapki, Jakarta, Selasa (30/01).

Ekspor sawit Indonesia sendiri sepanjang tahun 2017 mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan volume ekspor sebesar 31,05 juta ton. Capaian tersebut naik sekitar 23% dibandingkan besar ekspor pada tahun 2016 yang sebanyak 25,11 juta ton.

Togar memaparkan beberapa hambatan yang masih dihadapi industri sawit Indonesia seperti kampanye negatif dari dalam dan luar negeri terkait isu hak asasi manusia seperti pekerja anak dan perampasan hak masyarakat adat.

Sementara hambatan perdagangan juga muncul di berbagai negara. Mulai dari Amerika Serikat yang memberlakukan anti dumping untuk biodiesel Indonesia. 

Kemudian adanya resolusi Parlemen Eropa yang menyebutkan pelarangan biodiesel berbasis sawit karena dinilai masih menciptakan banyak masalah dari deforestasi, korupsi, pekerja anak, sampai pelanggaran HAM. Negara-negara Uni Eropa pun berencana menghentikan program biodiesel berbasis sawit mulai tahun 2021 mendatang.

Lalu ada India yang menaikkan pajak impor minyak sawit dua kali lipat di tahun 2017 dibanding tahun 2016. Dan terakhir ada Senat Australia yang kembali mengajukan RUU Competition and Consumer Amandment (Truth in Labeling - Palm Oil).

"Dalam kondisi ini, pemerintah diharapkan lebih jeli dalam melihat permasalahan dan dihimbau untuk tidak mengeluarkan regulasi-regulasi yang justru menghambat perkembangan industri sawit yang notabene saat ini merupakan mesin penghasil devisa terbesar dalam menyokong perekonomian Indonesia," jelas Togar. RH