Jumat, 05 Januari 2018

Penerimaan Hulu Migas 2017 Lebihi Target, Namun Cost Recovery Juga Jebol

Foto: taxpayer.net
Jakarta, OG Indonesia -- Penerimaan negara dari sektor hulu migas tahun 2017 mencapai USD 13,1 miliar. Angka ini melebihi target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 yang sebesar USD 12,2 miliar. “Capaiannya sekitar 108 persen dari target pemerintah,” kata Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi di Jakarta, Jumat (05/01).

Namun di sisi lain, untuk pengembalian biaya operasi (cost recovery) juga jebol yaitu sebesar USD 11,3 miliar atau 106% dari target APBN-P 2017 yang hanya sebesar USD 10,7 milliar (unaudited). Alokasi biaya terbesar cost recovery untuk mendukung aktivitas operasi sebesar 47 persen dan depresiasi sebesar 29 persen. 

Untuk lifting minyak dan gas bumi, capaiannya sebesar 1,944 juta barel ekuivalen minyak per hari atau sekitar 98,9 persen dari target APBN-P yang sebesar 1,965 juta barel ekuivalen minyak per hari. Rinciannya, lifting minyak bumi sebesar 803,8 ribu barel per hari atau 98,6 persen dari target sebesar 815 ribu barel per hari. Sedangkan realisasi lifting gas bumi sebesar 6.386 juta standar kaki kubik per hari atau 99,2 persen dari target yang sebesar 6.440 juta standar kaki kubik per hari.

“Kami berusaha seoptimal mungkin untuk menekan penurunan produksi alamiah dengan percepatan penyelesaian proyek dan mendorong kegiatan yang menjaga tingkat produksi,” katanya.

Pada 2017, terdapat 14 proyek yang mulai berproduksi dengan tambahan sebesar 3.800 barel per hari dan 587 juta kaki kubik per hari hingga 31 Desember 2017. Puncak produksi dari ke-14 proyek tersebut mencapai 21.280barel minyak per hari dan 1.194 juta kaki kubik per hari.

Sedangkan untuk realisasi investasi tahun 2017 sebesar USD 9,33 miliar dari kesepakatan dalam WP&B yang sebesar USD 12,29 miliar. Dari jumlah tersebut, investasi untuk blok eksplorasi hanya sebesar USD 180 juta, sebesar USD 9,15 miliar untuk blok eksploitasi. RH